<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Web Portal KEBUMEN</title>
	<atom:link href="http://www.kebumen.info/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kebumen.info</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Mar 2010 23:07:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Insurance for your Car</title>
		<link>http://www.kebumen.info/index/insurance-for-your-car.xhtml</link>
		<comments>http://www.kebumen.info/index/insurance-for-your-car.xhtml#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 23:07:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kebumen.info/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[In this modern era, it is important for you to have a special ride such as car. By having a car you can go to any where you want. Sometimes you feel worry if something will be happen with your car. You should need more money if your car is broken. It is not easy [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>In this modern era, it is important for you to have a special ride such as car. By having a car you can go to any where you want. Sometimes you feel worry if something will be happen with your car. You should need more money if your car is broken. It is not easy if your car was stolen. In New York City there are many car accidents and you can find that there are many stolen car in this city so, if you life in a big city, it is important for you to make car insurance.</p>
<p>Vehicle insurance is an insurance which is purchased for cars, trucks, or another vehicle. It is very important for you to keep your vehicle good. It is use to provide the protection against losses or the protection from many kinds of traffic accident. It is against liability which could be incurred in an accident. In many jurisdictions it is very important to have vehicle insurance before using a vehicle on public road. Most the jurisdiction is for the car and the driver. If you want to find <a href="http://www.autoinsurancecenter.com/" target="_blank">auto insurance rates</a> you can go to <a href="http://www.autoinsurancecenter.com/" target="_blank">Autoinsurancecenter.com</a>. You can get a quote for your car insurance easily.</p>
<p>If you live in New York and you will find any information about <a href="http://www.autoinsurancecenter.com/state_page_New_York.htm" target="_blank">New York auto insurance</a>, they provide it for you. You can get many choices to find the information about auto insurance.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kebumen.info/index/insurance-for-your-car.xhtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak-anak Gaza Berselancar Internet</title>
		<link>http://www.kebumen.info/index/anak-anak-gaza-berselancar-internet.xhtml</link>
		<comments>http://www.kebumen.info/index/anak-anak-gaza-berselancar-internet.xhtml#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 14:28:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita karangan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.antaranews.com/berita/1258208892/anak-anak-gaza-berselancar-internet</guid>
		<description><![CDATA[<div><div class="post-content" style="margin-top: 20px;" readability="90">Jakarta (ANTARA News) - Yasser Az-Za`eem, anak laki 14 tahun dari kamp pengungsi miskin Shatti di bagian barat Kota Gaza, menghabiskan kebanyakan waktunya di depan komputer murah, yang dihubungan dengan server murah Internet, dan bercakap dengan temannya dari negara lain Arab dan asing.<p>&#13;
  Berselancar di Internet telah menjadi satu-satunya hiburan, bukan hanya buat Az-Za`eem tapi juga buat sebagian besar temannya. Itu adalah salah satu cara bertemu dengan teman baru, menjelajahi jejaring atau bermain game. Dan mereka percaya itu adalah satu-satunya cara menerobos blokade tiga tahun Israel yang diberlakukan atas Jalur Gaza.</p><p>&#13;
  Az-Za`eem, yang tak pernah keluar Jalur Gaza sejak dilahirkan di kamp pengungsi itu, mengatakan ia memiliki jaringan hubungan luas dan persahabatan di Internet dengan kerabat dan teman di Tepi Barat Sungai Jordan dan di negara lain di seluruh dunia. "Buat saya, jejaring adalah jendela langka untuk membangkang terhadap pengepungan yang sedang berlangsung," kata Az-Za`eem kepada wartawan kantor berita China, Xinhua --Saud Abu Ramadan dan Emad Drimly.</p><p>&#13;
  Anak laki-laki cerdas tersebut mengatakan ia telah mulai belajar cara menggunakan komputer lima tahun lalu, ketika ia mengetahui bahwa sebagian kerabat dan tetangganya memiliki komputer. Ia memohon kepada ayahnya, yang memiliki pekerjaan dengan gaji rendah, agar membelikan dia dan saudara laki-laki komputer Compaq.</p><p>&#13;
  Komputer dan laptop, kebanyakan buatan China, berharga antara 500 dan 2.000 dolar AS. Komputer telah diselundupkan ke dalam Jalur Gaza melalui terowongan bawah tanah di perbatasan antara daerah kantung Palestina yang dirundung blokade itu dan Mesir.</p><p>&#13;
  "Ketika saya menggunakan komputer untuk pertama kali, saya benar-benar tidak tahu cara menggunakannya," kata Az-Za`eem. "Setelah lima tahun, saya dapat mengatakan saya sedikit ahli dalam penggunaan komputer dan mengetahui cara berselancar di jejaring Internet, yang mengubah dunia jadi satu desa kecil. Komputer buat saya sangat perlu dan berarti."</p><p>&#13;
  Meskipun menderita kemiskinan dan pengangguran, kebanyakan dari 1,5 juta warga di wilayah sempit yang miskin tersebut memiliki komputer atau laptop di rumah mereka, dan penjual serta pedagang alat elektronik mengatakan permintaan telah naik setelah harga turun.</p><p>&#13;
  MSN messenger, Skype dan yahoo telah menjadi sangat kondang sehingga percakapan dengan teman dan kerabat dari seluruh dunia sambil saling melihat di kamera komputer kini menjadi kegiatan lumrah di Jalur Gaza.</p><p>&#13;
  "Saya berselancar di jejaring dan membaca di laman buat anak serta mengunduh permainan. Saya juga mencari data yang membantu saya mengerjakan penelitian dan karya tulis buat sekolah saya, terutama dalam bidang geografi dan matematik," kata Az-Za`eem.</p><p>&#13;
  "Tetapi ketika saya berbincang dengan teman-teman, saya iri dengan mereka saat saya membandingkan kondisi hidup saya dengan mereka," katanya.</p><p><strong>Sepupu tak pernah bertemu</strong><br/>Az-Za`eem secara rutin berbicara melalui jejaring Internet dengan sepupunya Mohamed, yang tinggal di kota Ramallah, Tepi Barat. Kedua anak itu tak pernah bertemu selama lebih dari dua tahun, sejak Israel memberlakukan blokade ketat atas Jalur Gaza setelah HAMAS merebut kekuasaan atas daerah kantung tersebut pada Juni 2007.</p><p>&#13;
  "Ketika saya berbincang dengan sepupu saya, Mohamed, kami menyalakan mikrofon dan kamera jejaring kami seakan-akan kami duduk bersama. Ia memberitahu saya bagaimana kondisi Ramallah dan apa yang ia lakukan di sekolah dan saya mengeluh kepada dia mengenai kesulitan hidup di Jalur Gaza," kata Az`Za`eem.</p><p>&#13;
  Az-Za`eem, anak keempat di antara saudara laki-laki dan perempuan, adalah siswa nomor satu di sekolah, tempat ia menggunakan komputer dan keterangan yang ia dapatkan di jejaring guna memperkaya pengetahuannya.</p><p>&#13;
  Bukan hanya ia berselancar di jejaring untuk anak-anak, atau mencari permainan dan keterangan, tapi ia juga mengikuti berita olahrga. Ia adalah penggemar tim sepak bola Spanyol, Barcelon, dan ia terus mengikuti perkembangan terbaru klub itu dan mengetahui nama pemain bintang tim tersebut.</p><p>&#13;
  Az-Za`eem juga sangat menyukai piranti lunak rancangan Photoshop, yang ia gunakan untuk mengedit fotonya. Ia mengatakan ia sekarang ahli dalam program itu, sementara permainan kesukaannya meliputi GTA, atau Vice City Beach, yang meliputi mengemudikan mobil dan pertempuran.</p><p>&#13;
  "Saya pernah membuat tipuan, ketika saya memasang foto ayah saya sedang berdiri bersama seorang perempuan dan saya memperlihatkannya kepada ibu saya dan memberitahu dia bahwa perempuan ini adalah pacar ayah saya. Ibu sangat marah, tapi ketika saya memberitahu dia yang sebenarnya, setiap orang di dalam keluarga saya terbahak-bahak," kata Az-Za`eem.</p><p>&#13;
  Ibunya mengatakan ia tidak membiarkan anaknya sendirian di depan komputer. "Kami memantau dia dengan mengamati siapa orang yang diajaknya berbincang, dan kami memastikan bahwa ia tidak menonton gambar porno atau berselancar ke jejaring kelompok Islam fanatik yang akan mengubah cara berfikir anak-anak," katanya.</p><p>&#13;
  "Internet sangat bermanfaat, tapi pada saat yang sama sangat berbahay jika orang-tua tidak mengawasi anak mereka. Kami berusaha memastikan Yasser mendapatkan manfaat manfaat dan meningkatkan bakarnya, dan pada saat yang sama kami memantau apa yang biasa ia tonton," kata sang ibu saat ia membawakan segelas jus buat putranya.</p><p>&#13;
  Az-Za`eem mengatakan ia berharap dapat membeli komputer yang lebih bagus, lebih cepat dari yang ada sekarang dan memiliki PC pribadi sendiri tanpa berbagi dengan saudara laki-laki dan perempuannya. Namun, ia mengeluhkan pemadaman listrik yang terjadi setiap hari di Jalur Gaza.</p><p>&#13;
  Pasokan listrik di daerah kantung tersebut biasanya padam selama sedikitnya lima jam setiap hari karena pembangkit listrik di Jalur Gaza menghadapi kesulitan untuk memperoleh cukup bahan bakar diesel gara-gara blokade Israel.</p><p>&#13;
  "Ketika listrik padam, saya pergi menemui teman saya dan kadang-kala kami pergi ke warung Internet, yang memiliki generator listrik, untuk melanjutkan pencarian dan selancar kami," kata Az-Za`eem.</p><p>&#13;
  Menurut data statistik tak resmi, ada sebanyak 330 warung Internet di Jalur Gaza, tempat kebanyakan pelanggan mereka adalah anak-anak, remaja dan orang tua, yang pergi ke sana untuk berselancar atau bercakap dengan teman. Mereka yang biasanya mengunjungi warung Internet tak mampu membeli komputer.</p><p>&#13;
  Az-Za`eem juga mengeluh bahwa kecepatan Internet sangat lamban di Jalur Gaza akibat sangat banyak pengguna Internet. Ditambahkannya, ayahnya membayar biaya bulanan sebesar 15 dolar AS ke perusahaan telekomunikasi Palestina untuk menggunakan Internet. Kecepatan Internet di rumah Az-Za`eem hanya 128 kilobyte per detik.</p><p>&#13;
  Pejabat telekomunikasi Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA) Mashour Abu Dagga mengatakan penggunaan Internet telah berkembang baru-baru ini kendati blokade diberlakukan atas Jalur Gaza, dan telah menjadi salah satu faktor penting dalam ekonomi Palestina.</p><p>&#13;
  Meskipun Az-Za`eem mencintai komputer dan Internet, ia memimpikan pada suatu hari dapat menjadi seorang insinyur yang mengkhususkan diri dalam bidang pemrograman komputer dan Internet.</p><p>&#13;
  "Saya dapat memperoleh banyak uang, tapi saya tahu ini takkan mudah dan saya harus bekerja keras untuk mewujudkan ambisi ini," katanya.(*)</p></div></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div class="post-content" style="margin-top: 20px;" readability="90">Jakarta (ANTARA News) &#8211; Yasser Az-Za`eem, anak laki 14 tahun dari kamp pengungsi miskin Shatti di bagian barat Kota Gaza, menghabiskan kebanyakan waktunya di depan komputer murah, yang dihubungan dengan server murah Internet, dan bercakap dengan temannya dari negara lain Arab dan asing.
<p>&#13;<br />
  Berselancar di Internet telah menjadi satu-satunya hiburan, bukan hanya buat Az-Za`eem tapi juga buat sebagian besar temannya. Itu adalah salah satu cara bertemu dengan teman baru, menjelajahi jejaring atau bermain game. Dan mereka percaya itu adalah satu-satunya cara menerobos blokade tiga tahun Israel yang diberlakukan atas Jalur Gaza.</p>
<p>&#13;<br />
  Az-Za`eem, yang tak pernah keluar Jalur Gaza sejak dilahirkan di kamp pengungsi itu, mengatakan ia memiliki jaringan hubungan luas dan persahabatan di Internet dengan kerabat dan teman di Tepi Barat Sungai Jordan dan di negara lain di seluruh dunia. &#8220;Buat saya, jejaring adalah jendela langka untuk membangkang terhadap pengepungan yang sedang berlangsung,&#8221; kata Az-Za`eem kepada wartawan kantor berita China, Xinhua &#8211;Saud Abu Ramadan dan Emad Drimly.</p>
<p>&#13;<br />
  Anak laki-laki cerdas tersebut mengatakan ia telah mulai belajar cara menggunakan komputer lima tahun lalu, ketika ia mengetahui bahwa sebagian kerabat dan tetangganya memiliki komputer. Ia memohon kepada ayahnya, yang memiliki pekerjaan dengan gaji rendah, agar membelikan dia dan saudara laki-laki komputer Compaq.</p>
<p>&#13;<br />
  Komputer dan laptop, kebanyakan buatan China, berharga antara 500 dan 2.000 dolar AS. Komputer telah diselundupkan ke dalam Jalur Gaza melalui terowongan bawah tanah di perbatasan antara daerah kantung Palestina yang dirundung blokade itu dan Mesir.</p>
<p>&#13;<br />
  &#8220;Ketika saya menggunakan komputer untuk pertama kali, saya benar-benar tidak tahu cara menggunakannya,&#8221; kata Az-Za`eem. &#8220;Setelah lima tahun, saya dapat mengatakan saya sedikit ahli dalam penggunaan komputer dan mengetahui cara berselancar di jejaring Internet, yang mengubah dunia jadi satu desa kecil. Komputer buat saya sangat perlu dan berarti.&#8221;</p>
<p>&#13;<br />
  Meskipun menderita kemiskinan dan pengangguran, kebanyakan dari 1,5 juta warga di wilayah sempit yang miskin tersebut memiliki komputer atau laptop di rumah mereka, dan penjual serta pedagang alat elektronik mengatakan permintaan telah naik setelah harga turun.</p>
<p>&#13;<br />
  MSN messenger, Skype dan yahoo telah menjadi sangat kondang sehingga percakapan dengan teman dan kerabat dari seluruh dunia sambil saling melihat di kamera komputer kini menjadi kegiatan lumrah di Jalur Gaza.</p>
<p>&#13;<br />
  &#8220;Saya berselancar di jejaring dan membaca di laman buat anak serta mengunduh permainan. Saya juga mencari data yang membantu saya mengerjakan penelitian dan karya tulis buat sekolah saya, terutama dalam bidang geografi dan matematik,&#8221; kata Az-Za`eem.</p>
<p>&#13;<br />
  &#8220;Tetapi ketika saya berbincang dengan teman-teman, saya iri dengan mereka saat saya membandingkan kondisi hidup saya dengan mereka,&#8221; katanya.</p>
<p><strong>Sepupu tak pernah bertemu</strong><br/>Az-Za`eem secara rutin berbicara melalui jejaring Internet dengan sepupunya Mohamed, yang tinggal di kota Ramallah, Tepi Barat. Kedua anak itu tak pernah bertemu selama lebih dari dua tahun, sejak Israel memberlakukan blokade ketat atas Jalur Gaza setelah HAMAS merebut kekuasaan atas daerah kantung tersebut pada Juni 2007.</p>
<p>&#13;<br />
  &#8220;Ketika saya berbincang dengan sepupu saya, Mohamed, kami menyalakan mikrofon dan kamera jejaring kami seakan-akan kami duduk bersama. Ia memberitahu saya bagaimana kondisi Ramallah dan apa yang ia lakukan di sekolah dan saya mengeluh kepada dia mengenai kesulitan hidup di Jalur Gaza,&#8221; kata Az`Za`eem.</p>
<p>&#13;<br />
  Az-Za`eem, anak keempat di antara saudara laki-laki dan perempuan, adalah siswa nomor satu di sekolah, tempat ia menggunakan komputer dan keterangan yang ia dapatkan di jejaring guna memperkaya pengetahuannya.</p>
<p>&#13;<br />
  Bukan hanya ia berselancar di jejaring untuk anak-anak, atau mencari permainan dan keterangan, tapi ia juga mengikuti berita olahrga. Ia adalah penggemar tim sepak bola Spanyol, Barcelon, dan ia terus mengikuti perkembangan terbaru klub itu dan mengetahui nama pemain bintang tim tersebut.</p>
<p>&#13;<br />
  Az-Za`eem juga sangat menyukai piranti lunak rancangan Photoshop, yang ia gunakan untuk mengedit fotonya. Ia mengatakan ia sekarang ahli dalam program itu, sementara permainan kesukaannya meliputi GTA, atau Vice City Beach, yang meliputi mengemudikan mobil dan pertempuran.</p>
<p>&#13;<br />
  &#8220;Saya pernah membuat tipuan, ketika saya memasang foto ayah saya sedang berdiri bersama seorang perempuan dan saya memperlihatkannya kepada ibu saya dan memberitahu dia bahwa perempuan ini adalah pacar ayah saya. Ibu sangat marah, tapi ketika saya memberitahu dia yang sebenarnya, setiap orang di dalam keluarga saya terbahak-bahak,&#8221; kata Az-Za`eem.</p>
<p>&#13;<br />
  Ibunya mengatakan ia tidak membiarkan anaknya sendirian di depan komputer. &#8220;Kami memantau dia dengan mengamati siapa orang yang diajaknya berbincang, dan kami memastikan bahwa ia tidak menonton gambar porno atau berselancar ke jejaring kelompok Islam fanatik yang akan mengubah cara berfikir anak-anak,&#8221; katanya.</p>
<p>&#13;<br />
  &#8220;Internet sangat bermanfaat, tapi pada saat yang sama sangat berbahay jika orang-tua tidak mengawasi anak mereka. Kami berusaha memastikan Yasser mendapatkan manfaat manfaat dan meningkatkan bakarnya, dan pada saat yang sama kami memantau apa yang biasa ia tonton,&#8221; kata sang ibu saat ia membawakan segelas jus buat putranya.</p>
<p>&#13;<br />
  Az-Za`eem mengatakan ia berharap dapat membeli komputer yang lebih bagus, lebih cepat dari yang ada sekarang dan memiliki PC pribadi sendiri tanpa berbagi dengan saudara laki-laki dan perempuannya. Namun, ia mengeluhkan pemadaman listrik yang terjadi setiap hari di Jalur Gaza.</p>
<p>&#13;<br />
  Pasokan listrik di daerah kantung tersebut biasanya padam selama sedikitnya lima jam setiap hari karena pembangkit listrik di Jalur Gaza menghadapi kesulitan untuk memperoleh cukup bahan bakar diesel gara-gara blokade Israel.</p>
<p>&#13;<br />
  &#8220;Ketika listrik padam, saya pergi menemui teman saya dan kadang-kala kami pergi ke warung Internet, yang memiliki generator listrik, untuk melanjutkan pencarian dan selancar kami,&#8221; kata Az-Za`eem.</p>
<p>&#13;<br />
  Menurut data statistik tak resmi, ada sebanyak 330 warung Internet di Jalur Gaza, tempat kebanyakan pelanggan mereka adalah anak-anak, remaja dan orang tua, yang pergi ke sana untuk berselancar atau bercakap dengan teman. Mereka yang biasanya mengunjungi warung Internet tak mampu membeli komputer.</p>
<p>&#13;<br />
  Az-Za`eem juga mengeluh bahwa kecepatan Internet sangat lamban di Jalur Gaza akibat sangat banyak pengguna Internet. Ditambahkannya, ayahnya membayar biaya bulanan sebesar 15 dolar AS ke perusahaan telekomunikasi Palestina untuk menggunakan Internet. Kecepatan Internet di rumah Az-Za`eem hanya 128 kilobyte per detik.</p>
<p>&#13;<br />
  Pejabat telekomunikasi Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA) Mashour Abu Dagga mengatakan penggunaan Internet telah berkembang baru-baru ini kendati blokade diberlakukan atas Jalur Gaza, dan telah menjadi salah satu faktor penting dalam ekonomi Palestina.</p>
<p>&#13;<br />
  Meskipun Az-Za`eem mencintai komputer dan Internet, ia memimpikan pada suatu hari dapat menjadi seorang insinyur yang mengkhususkan diri dalam bidang pemrograman komputer dan Internet.</p>
<p>&#13;<br />
  &#8220;Saya dapat memperoleh banyak uang, tapi saya tahu ini takkan mudah dan saya harus bekerja keras untuk mewujudkan ambisi ini,&#8221; katanya.(*)</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kebumen.info/index/anak-anak-gaza-berselancar-internet.xhtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kontroversi Wacana Pelarangan Siaran Langsung Sidang Pengadilan</title>
		<link>http://www.kebumen.info/index/kontroversi-wacana-pelarangan-siaran-langsung-sidang-pengadilan.xhtml</link>
		<comments>http://www.kebumen.info/index/kontroversi-wacana-pelarangan-siaran-langsung-sidang-pengadilan.xhtml#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 14:20:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita karangan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.antaranews.com/berita/1258208459/kontroversi-wacana-pelarangan-siaran-langsung-sidang-pengadilan</guid>
		<description><![CDATA[<div><div class="post-content" style="margin-top: 20px;" readability="98">Jakarta (ANTARA News) - Wacana pembatasan dan pelarangan liputan siaran langsung dalam sidang pengadilan ternyata mendapat tantangan yang cukup keras dari sejumlah kalangan antara lain para aktivis masyarakat sipil.<p>&#13;
  Usulan terkait larangan siaran langsung itu mulai merebak ketika Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Sasa Djuarsa Senjaja di Gedung DPR di Jakarta, Rabu (11/11) mengatakan, pihaknya akan menata ulang liputan langsung stasiun televisi dari ruang sidang pengadilan.</p><p>&#13;
  KPI merupakan lembaga independen yang memiliki fungsi sebagai regulator penyelenggaraan penyiaran di Indonesia. KPI dibentuk berdasarkan UU Penyiaran Nomor 32/2002.</p><p>&#13;
  Sasa mengatakan, penataan ulang itu karena liputan langsung stasiun televisi dari ruang sidang pengadilan dinilai KPI akan menimbulkan ekses yang bisa membahayakan banyak pihak.</p><p>&#13;
  Menurut dia, liputan langsung stasiun televisi hanya boleh menyiarkan wawancara dengan majelis hakim, jaksa penuntut umum, dan kuasa hukum, pada saat menjelang dan seusai jalannya sidang.</p><p>&#13;
  "Stasiun televisi tidak boleh melakukan liputan langsung proses jalannya persidangan karena itu bisa mempengaruhi opini publik sebelum ada vonis dari majelis hakim," kata Sasa.</p><p>&#13;
  Ia memaparkan, penataan ulang liputan langsung tersebut diputuskan KPI berdasarkan perkembangan terbaru, terutama jalannya persidangan dari kasus-kasus yang menjadi perhatian masyarakat luas, seperti kasus Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.</p><p>&#13;
  Kemudian sidang di Mahkamah Konstitusi (MK) yang memperdengarkan rekaman hasil penyadapan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).</p><p>&#13;
  Sontak, wacana terkait pembatasan siaran langsung pengadilan mendapat respon dari sejumlah pihak, antara lain Koordinator Divisi Hak Asasi Manusia (HAM) Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI), Anggara.</p><p>&#13;
  Anggara memaparkan, pembatasan siaran langsung persidangan seharusnya mengacu kepada Kode Etik Jurnalistik dan bukannya ketentuan yang dikeluarkan oleh KPI.</p><p>&#13;
  "Batasannya seharusnya adalah Kode Etik Jurnalistik," kata Anggara kepada ANTARA News.</p><p>&#13;
  Menurut dia, Kode Etik Jurnalistik sebenarnya telah memadai sehingga KPI seharusnya tidak lagi berupaya untuk mengeluarkan batasan-batasan terhadap siaran langsung persidangan.</p><p>&#13;
  Apalagi, lanjutnya, Kode Etik Jurnalistik berlaku bagi segala macam pekerjaan wartawan mulai dari media cetak seperti surat kabar hingga media elektronik seperti televisi.</p><p>&#13;
  Ia menegaskan, wewenang untuk melarang siaran langsung pengadilan terletak pada hakim pengadilan yang merupakan pemimpin dari persidangan tersebut.</p><p><strong>&#13;
                Dakwaan vulgar</strong><br/>Wacana larangan siaran langsung persidangan muncul antara lain setelah pembacaan dakwaan yang vulgar dalam kasus pembunuhan Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen yang menjerat mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar.</p><p>&#13;
  Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Indonesian Legal Resources Center (ILRC) Uli Parulian Sihombing mengatakan, pembacaan dakwaan vulgar itu sebenarnya hanyalah merupakan satu kasus.</p><p>&#13;
  "Jangan satu kasus ini sampai digeneralisasi dengan kasus-kasus lainnya," kata Uli.</p><p>&#13;
  Ia mengingatkan, siaran langsung persidangan di Mahkamah Konstitusi (MK) ternyata bermanfaat membuat masyarakat luas mengetahui secara cepat dan langsung mengenai rekaman rekayasa yang sebelumnya masih sebatas isu atau tidak jelas keberadaannya.</p><p>&#13;
  Karenanya, Uli berpendapat, terdapatnya siaran langsung dalam acara persidangan MK mengindikasikan adanya kemajuan dalam alam demokrasi di Indonesia.</p><p>&#13;
  "Siaran langsung persidangan bagus untuk alam demokrasi," katanya.</p><p>&#13;
  Menurut alumni Fakultas Hukum Universitas Jendral Sudirman Purwakarta itu, bila terdapat pelarangan terhadap siaran langsung persidangan maka hal itu sama saja dengan langkah kemunduran.</p><p>&#13;
  Dengan melarang siaran langsung persidangan, ia berpendapat hal tersebut sama saja dengan membatasi hak masyarakat untuk mendapatkan informasi atas sebuah kasus hukum secara utuh, lengkap, dan tidak setengah-setengah.</p><p>&#13;
  Selain itu, ujar dia, siaran langsung persidangan sebenarnya juga merupakan media yang efektif untuk memberikan edukasi dan pemahaman tentang jalannya persidangan kepada masyarakat luas.</p><p>&#13;
  Uli mengingatkan, dengan adanya siaran langsung persidangan terkait rekaman rekayasa di Mahkamah Konstitusi (MK) maka masyarakat bisa mengetahui mengenai kasus tersebut secara cepat dan meluas.</p><p>&#13;
  Sejumlah pihak bahkan menyatakan bahwa langkah MK dalam memutarkan rekaman tersebut secara terbuka merupakan langkah terobosan hukum yang efektif dan perlu untuk diapresiasi secara mendalam.</p><p>&#13;
  Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin yang ditemui wartawan saat digelarnya sidang pemutaran rekaman rekayasa di MK pada 3 November, mengatakan, pihaknya memberikan pujian kepada MK yang memutuskan untuk memperdengarkan secara terbuka rekaman dugaan rekayasa dalam kasus yang menjerat dua pimpinan KPK itu.</p><p>&#13;
  "Kita patut memberikan pujian. Semoga MK bisa bekerja sebaik-baiknya menangani masalah ini," kata Din.</p><p>&#13;
  Ketua Umum PP Muhammadiyah menyatakan pihaknya memberikan pujian terhadap kinerja MK karena lembaga konstitusi tersebut menggelar sidang uji materi UU KPK secara terbuka pada agenda mendengarkan alat bukti transkrip dan rekaman percakapan yang diduga antara pengusaha Anggodo Widjojo dengan sejumlah pejabat penegak hukum.</p><p><strong>&#13;
               KPI bukan yudikatif<br/></strong>Uli menambahkan, KPI harus diingatkan sejumlah pihak terkait bahwa lembaga tersebut bukanlah perpanjangan lembaga yudikatif.</p><p>&#13;
  "KPI bukanlah bagian dari lembaga yudikatif," kata mantan Ketua LBH Jakarta itu.</p><p>&#13;
  Karena itu, ia menilai adalah rancu bila lembaga seperti KPI berkehendak mengeluarkan peraturan yang melarang siaran langsung persidangan dalam lembaga pengadilan yang sebenarnya merupakan domain dan tanggung jawab dari hakim sebagai pemimpin persidangan.</p><p>&#13;
  Menurut dia, bila terdapat pelarangan terhadap siaran langsung persidangan maka berpotensi mengacaukan kewenangan sistem hukum di Indonesia.</p><p>&#13;
  "Larangan itu dapat mengacaukan kewenangan sistem hukum," katanya.</p><p>&#13;
  Ia juga mengemukakan, larangan menggelar siaran langsung persidangan melanggar ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).</p><p>&#13;
  Pasal 153 Ayat (3) KUHAP menyatakan, untuk keperluan pemeriksaan, hakim ketua sidang membuka sidang dan menyatakan terbuka untuk umum kecuali dalam perkara mengenai kesusilaan atau terdakwanya anak-anak.</p><p>&#13;
  Berarti, ujar dia, sudah jelas bahwa semua sidang terbuka untuk umum dan bisa mendapatkan liputan media secara langsung kecuali dalam beberapa kasus.</p><p>&#13;
  "Kasus yang tertutup adalah kasus terkait anak-anak dan tentang kesusilaan," katanya.</p><p>&#13;
  Berkaitan dengan wacana larangan siaran langsung persidangan, Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara kepada sejumlah media mengibaratkan usulan tersebut seperti upaya memburu dan menangkap tikus yang mencuri padi dengan membakar lumbung atau tempat penyimpanan padinya.</p><p>&#13;
  Leo mengutarakan kekecewaannya karena sebenarnya telah terdapat ketentuan dan mekanisme untuk memberikan sanksi kepada media yang melanggar Kode Etik Jurnalistik sebagaimana tercakup dalam UU Pers Nomor 40 Tahun 1999.</p><p>&#13;
  Ia juga menyesalkan terdapat media yang tidak sensitif terhadap sejumlah materi pemberitaan yang dinilai vulgar sebagaimana yang disebutkan dalam pembacaan dakwaan Jaksa dalam kasus Antasari Azhar.</p><p>&#13;
  Sementara itu, siaran pers yang dikeluarkan Anggota DPR Komisi I Ramadhan Pohan menegaskan dukungan kepada kebebasan pers yang beretika serta memberikan perhatian yang serius terhadap nilai pendidikan dan kepantasan yang berlaku di tengah masyarakat di Tanah Air.</p><p>&#13;
  Namun, menurut politisi Partai Demokrat itu, insan pers juga harus mempertimbangkan secara mendalam tentang aspek lain dari pemberitaan yang mengancam hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang memenuhi asas kepatuhan, kesusilaan, dan pendidikan.</p><p>&#13;
  KPI sendiri telah mengagendakan untuk bertemu pihak Dewan Pers pada Senin (16/11) untuk membahas tentang wacana pembatasan siaran langsung tersebut.</p><p>&#13;
  Pertemuan itu diharapkan bisa berujung kepada terciptanya keputusan yang memuaskan semua pihak, atau malah semakin menambah panjang keruwetan kontroversi terkait wacana larangan liputan siaran langsung di sidang pengadilan.(*)</p></div></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div class="post-content" style="margin-top: 20px;" readability="98">Jakarta (ANTARA News) &#8211; Wacana pembatasan dan pelarangan liputan siaran langsung dalam sidang pengadilan ternyata mendapat tantangan yang cukup keras dari sejumlah kalangan antara lain para aktivis masyarakat sipil.
<p>&#13;<br />
  Usulan terkait larangan siaran langsung itu mulai merebak ketika Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Sasa Djuarsa Senjaja di Gedung DPR di Jakarta, Rabu (11/11) mengatakan, pihaknya akan menata ulang liputan langsung stasiun televisi dari ruang sidang pengadilan.</p>
<p>&#13;<br />
  KPI merupakan lembaga independen yang memiliki fungsi sebagai regulator penyelenggaraan penyiaran di Indonesia. KPI dibentuk berdasarkan UU Penyiaran Nomor 32/2002.</p>
<p>&#13;<br />
  Sasa mengatakan, penataan ulang itu karena liputan langsung stasiun televisi dari ruang sidang pengadilan dinilai KPI akan menimbulkan ekses yang bisa membahayakan banyak pihak.</p>
<p>&#13;<br />
  Menurut dia, liputan langsung stasiun televisi hanya boleh menyiarkan wawancara dengan majelis hakim, jaksa penuntut umum, dan kuasa hukum, pada saat menjelang dan seusai jalannya sidang.</p>
<p>&#13;<br />
  &#8220;Stasiun televisi tidak boleh melakukan liputan langsung proses jalannya persidangan karena itu bisa mempengaruhi opini publik sebelum ada vonis dari majelis hakim,&#8221; kata Sasa.</p>
<p>&#13;<br />
  Ia memaparkan, penataan ulang liputan langsung tersebut diputuskan KPI berdasarkan perkembangan terbaru, terutama jalannya persidangan dari kasus-kasus yang menjadi perhatian masyarakat luas, seperti kasus Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.</p>
<p>&#13;<br />
  Kemudian sidang di Mahkamah Konstitusi (MK) yang memperdengarkan rekaman hasil penyadapan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).</p>
<p>&#13;<br />
  Sontak, wacana terkait pembatasan siaran langsung pengadilan mendapat respon dari sejumlah pihak, antara lain Koordinator Divisi Hak Asasi Manusia (HAM) Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI), Anggara.</p>
<p>&#13;<br />
  Anggara memaparkan, pembatasan siaran langsung persidangan seharusnya mengacu kepada Kode Etik Jurnalistik dan bukannya ketentuan yang dikeluarkan oleh KPI.</p>
<p>&#13;<br />
  &#8220;Batasannya seharusnya adalah Kode Etik Jurnalistik,&#8221; kata Anggara kepada ANTARA News.</p>
<p>&#13;<br />
  Menurut dia, Kode Etik Jurnalistik sebenarnya telah memadai sehingga KPI seharusnya tidak lagi berupaya untuk mengeluarkan batasan-batasan terhadap siaran langsung persidangan.</p>
<p>&#13;<br />
  Apalagi, lanjutnya, Kode Etik Jurnalistik berlaku bagi segala macam pekerjaan wartawan mulai dari media cetak seperti surat kabar hingga media elektronik seperti televisi.</p>
<p>&#13;<br />
  Ia menegaskan, wewenang untuk melarang siaran langsung pengadilan terletak pada hakim pengadilan yang merupakan pemimpin dari persidangan tersebut.</p>
<p><strong>&#13;<br />
                Dakwaan vulgar</strong><br/>Wacana larangan siaran langsung persidangan muncul antara lain setelah pembacaan dakwaan yang vulgar dalam kasus pembunuhan Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen yang menjerat mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar.</p>
<p>&#13;<br />
  Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Indonesian Legal Resources Center (ILRC) Uli Parulian Sihombing mengatakan, pembacaan dakwaan vulgar itu sebenarnya hanyalah merupakan satu kasus.</p>
<p>&#13;<br />
  &#8220;Jangan satu kasus ini sampai digeneralisasi dengan kasus-kasus lainnya,&#8221; kata Uli.</p>
<p>&#13;<br />
  Ia mengingatkan, siaran langsung persidangan di Mahkamah Konstitusi (MK) ternyata bermanfaat membuat masyarakat luas mengetahui secara cepat dan langsung mengenai rekaman rekayasa yang sebelumnya masih sebatas isu atau tidak jelas keberadaannya.</p>
<p>&#13;<br />
  Karenanya, Uli berpendapat, terdapatnya siaran langsung dalam acara persidangan MK mengindikasikan adanya kemajuan dalam alam demokrasi di Indonesia.</p>
<p>&#13;<br />
  &#8220;Siaran langsung persidangan bagus untuk alam demokrasi,&#8221; katanya.</p>
<p>&#13;<br />
  Menurut alumni Fakultas Hukum Universitas Jendral Sudirman Purwakarta itu, bila terdapat pelarangan terhadap siaran langsung persidangan maka hal itu sama saja dengan langkah kemunduran.</p>
<p>&#13;<br />
  Dengan melarang siaran langsung persidangan, ia berpendapat hal tersebut sama saja dengan membatasi hak masyarakat untuk mendapatkan informasi atas sebuah kasus hukum secara utuh, lengkap, dan tidak setengah-setengah.</p>
<p>&#13;<br />
  Selain itu, ujar dia, siaran langsung persidangan sebenarnya juga merupakan media yang efektif untuk memberikan edukasi dan pemahaman tentang jalannya persidangan kepada masyarakat luas.</p>
<p>&#13;<br />
  Uli mengingatkan, dengan adanya siaran langsung persidangan terkait rekaman rekayasa di Mahkamah Konstitusi (MK) maka masyarakat bisa mengetahui mengenai kasus tersebut secara cepat dan meluas.</p>
<p>&#13;<br />
  Sejumlah pihak bahkan menyatakan bahwa langkah MK dalam memutarkan rekaman tersebut secara terbuka merupakan langkah terobosan hukum yang efektif dan perlu untuk diapresiasi secara mendalam.</p>
<p>&#13;<br />
  Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin yang ditemui wartawan saat digelarnya sidang pemutaran rekaman rekayasa di MK pada 3 November, mengatakan, pihaknya memberikan pujian kepada MK yang memutuskan untuk memperdengarkan secara terbuka rekaman dugaan rekayasa dalam kasus yang menjerat dua pimpinan KPK itu.</p>
<p>&#13;<br />
  &#8220;Kita patut memberikan pujian. Semoga MK bisa bekerja sebaik-baiknya menangani masalah ini,&#8221; kata Din.</p>
<p>&#13;<br />
  Ketua Umum PP Muhammadiyah menyatakan pihaknya memberikan pujian terhadap kinerja MK karena lembaga konstitusi tersebut menggelar sidang uji materi UU KPK secara terbuka pada agenda mendengarkan alat bukti transkrip dan rekaman percakapan yang diduga antara pengusaha Anggodo Widjojo dengan sejumlah pejabat penegak hukum.</p>
<p><strong>&#13;<br />
               KPI bukan yudikatif<br/></strong>Uli menambahkan, KPI harus diingatkan sejumlah pihak terkait bahwa lembaga tersebut bukanlah perpanjangan lembaga yudikatif.</p>
<p>&#13;<br />
  &#8220;KPI bukanlah bagian dari lembaga yudikatif,&#8221; kata mantan Ketua LBH Jakarta itu.</p>
<p>&#13;<br />
  Karena itu, ia menilai adalah rancu bila lembaga seperti KPI berkehendak mengeluarkan peraturan yang melarang siaran langsung persidangan dalam lembaga pengadilan yang sebenarnya merupakan domain dan tanggung jawab dari hakim sebagai pemimpin persidangan.</p>
<p>&#13;<br />
  Menurut dia, bila terdapat pelarangan terhadap siaran langsung persidangan maka berpotensi mengacaukan kewenangan sistem hukum di Indonesia.</p>
<p>&#13;<br />
  &#8220;Larangan itu dapat mengacaukan kewenangan sistem hukum,&#8221; katanya.</p>
<p>&#13;<br />
  Ia juga mengemukakan, larangan menggelar siaran langsung persidangan melanggar ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).</p>
<p>&#13;<br />
  Pasal 153 Ayat (3) KUHAP menyatakan, untuk keperluan pemeriksaan, hakim ketua sidang membuka sidang dan menyatakan terbuka untuk umum kecuali dalam perkara mengenai kesusilaan atau terdakwanya anak-anak.</p>
<p>&#13;<br />
  Berarti, ujar dia, sudah jelas bahwa semua sidang terbuka untuk umum dan bisa mendapatkan liputan media secara langsung kecuali dalam beberapa kasus.</p>
<p>&#13;<br />
  &#8220;Kasus yang tertutup adalah kasus terkait anak-anak dan tentang kesusilaan,&#8221; katanya.</p>
<p>&#13;<br />
  Berkaitan dengan wacana larangan siaran langsung persidangan, Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara kepada sejumlah media mengibaratkan usulan tersebut seperti upaya memburu dan menangkap tikus yang mencuri padi dengan membakar lumbung atau tempat penyimpanan padinya.</p>
<p>&#13;<br />
  Leo mengutarakan kekecewaannya karena sebenarnya telah terdapat ketentuan dan mekanisme untuk memberikan sanksi kepada media yang melanggar Kode Etik Jurnalistik sebagaimana tercakup dalam UU Pers Nomor 40 Tahun 1999.</p>
<p>&#13;<br />
  Ia juga menyesalkan terdapat media yang tidak sensitif terhadap sejumlah materi pemberitaan yang dinilai vulgar sebagaimana yang disebutkan dalam pembacaan dakwaan Jaksa dalam kasus Antasari Azhar.</p>
<p>&#13;<br />
  Sementara itu, siaran pers yang dikeluarkan Anggota DPR Komisi I Ramadhan Pohan menegaskan dukungan kepada kebebasan pers yang beretika serta memberikan perhatian yang serius terhadap nilai pendidikan dan kepantasan yang berlaku di tengah masyarakat di Tanah Air.</p>
<p>&#13;<br />
  Namun, menurut politisi Partai Demokrat itu, insan pers juga harus mempertimbangkan secara mendalam tentang aspek lain dari pemberitaan yang mengancam hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang memenuhi asas kepatuhan, kesusilaan, dan pendidikan.</p>
<p>&#13;<br />
  KPI sendiri telah mengagendakan untuk bertemu pihak Dewan Pers pada Senin (16/11) untuk membahas tentang wacana pembatasan siaran langsung tersebut.</p>
<p>&#13;<br />
  Pertemuan itu diharapkan bisa berujung kepada terciptanya keputusan yang memuaskan semua pihak, atau malah semakin menambah panjang keruwetan kontroversi terkait wacana larangan liputan siaran langsung di sidang pengadilan.(*)</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kebumen.info/index/kontroversi-wacana-pelarangan-siaran-langsung-sidang-pengadilan.xhtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&quot;Perang Mode&quot; di Pertemuan Puncak APEC</title>
		<link>http://www.kebumen.info/index/perang-mode-di-pertemuan-puncak-apec.xhtml</link>
		<comments>http://www.kebumen.info/index/perang-mode-di-pertemuan-puncak-apec.xhtml#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 13:44:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita karangan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.antaranews.com/berita/1258206257/perang-mode-di-pertemuan-puncak-apec</guid>
		<description><![CDATA[<div><div class="post-content" style="margin-top: 20px;" readability="88">Singapura (ANTARA News) - Deretan kepala negara/pemerintahan dalam balutan busana "cantik" dengan latar belakang pemandangan terindah di Negeri Singa. <p>&#13;
 Panorama itu adalah satu dari sejumlah kekhasan pertemuan puncak Forum Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC).</p><p>&#13;
 Tradisi yang telah berlangsung lebih dari 10 tahun itu dimulai pada 1993 ketika Presiden Amerika Serikat Bill Clinton mulai mendadani para tamunya di pertemuan puncak APEC di Seattle, Amerika Serikat, dengan seragam jaket penerbang.</p><p>&#13;
 Dan bagai suatu tradisi baru yang tampak menyenangkan, kebiasaan itu terus berlanjut dan tetap dipegang teguh oleh para tuan rumah APEC hingga tahun ke 17 penyelenggaraan pertemuan puncak APEC.</p><p>&#13;
 Oleh karena itu tak heran setiap menjelang pertemuan puncak APEC, tuan rumah tidak hanya sibuk menyiapkan lokasi dan pelaksanaan pertemuan itu, namun juga membahas busana apa yang paling pantas digunakan untuk sesi foto para pemimpin ekonomi negara-negara APEC.</p><p>&#13;
 Tak boleh sembarang busana, karena secara tidak tertulis tahun demi tahun setiap negara berusaha menunjukkan busana "tradisonal" teranggun mereka. Busana itu --yang tidak selalu berupa busana tradisional-- secara menyeluruh mewakili kekhasan budaya sang tuan rumah.</p><p>&#13;
 Tak pelak lagi ajang pertemuan puncak APEC pun berubah menjadi salah satu panggung pertunjukan busana dengan para kepala negara/pemerintahan sebagai modelnya. </p><p>&#13;
 Bill Clinton memulai ide untuk menyeragamkan koleganya tapi Presiden Indonesia Soeharto adalah sosok kunci yang menjadikan hal itu suatu tradisi ketika ia mengikuti jejak Clinton di Bogor.</p><p>&#13;
 Ketika seluruh kepala pemerintahan/negara APEC kemudian "boyongan" ke Bogor, Indonesia, satu tahun berikutnya, Pemerintah Indonesia enggan kalah, meminta mereka mengenakan kemeja batik lengan panjang sebelum sesi foto bersama.</p><p>&#13;
 Selain pencapaian bersama "Target Bogor" (Bogor Goals) di Bogor dalam pertemuan APEC itu, kenangan tentang deretan para kepala negara/pemerintahan mengenakan kemeja batik lengan panjang sambil saling bercakap-cakap dan bercanda akrab akan selalu menjadi bagian dari cerita manis pertemuan puncak di Bogor itu.</p><p>&#13;
 Setelah itu, berturut-turut satu persatu negara tuan rumah APEC unjuk gigi. Kimono sutra biru Jepang sebagai pelapis jas pada pertemuan puncak APEC tahun 1995 di Osaka, baju barong tagalog di pertemuan APEC Filipina, jaket kulit di Kanada, baju bermotif khas di Kuala Lumpur, jaket berlayar di pertemuan APEC Auckland Selandia Baru tahun 1999, kain tenun di Brunei Darussalam, baju sutra bordir Shanghai di China, guayabera di pertemuan APEC Los Cabos Meksiko 2002, sutra bordir Thailand di Bangkok, chamanto di Santiago Chili, ao dai dalam pertemuan APEC Vietnam 2006, dan jaket hujan di Sydney 2007.</p><p>&#13;
 Arti penting dari pemilihan busana itu bahkan sempat membuat publik di Australia berdebat panjang mengenai busana apa yang paling pas untuk digunakan oleh para pemimpin negara/pemerintahan di pertemuan puncak APEC Sydney. Busana apa yang paling mencerminkan Australia, yang membuat dunia internasional mengingat Australia ketika puluhan tahun kemudian melihat kembali foto tersebut.</p><p>&#13;
 Sama seperti bagaimana dunia akan selalu mengingat deretan kepala negara/pemerintahan dalam balutan poncho berwarna coklat polos dalam sesi foto APEC ke-16 di Lima, Peru. </p><p>&#13;
 Poncho adalah pakaian tradisional Peru, terbuat dari bulu Alpaca. Baju hangat itu biasanya dikenakan oleh suku-suku Indian di Peru untuk menahan diri dari serangan angin dan hujan. Pakaian satu lembar itu hanya punya satu lubang di tengahnya untuk kepala kita masuk.  </p><p>&#13;
 Sekalipun Poncho makin populer setelah Clint Eastwood memakainya dalam film "<em>Man with No Name </em>dan<em> Dollars Trilogy</em>" tapi menatap deretan para pemimpin negara/pemerintahan itu dalam balutan poncho warna coklat dapat menyisakan senyum bagi sejumlah orang, karena para pemimpin ekonomi APEC itu tampak bagai berselimut. </p><p><strong>Kain Peranakan Singapura</strong><br/>&#13;
 Sebagai tuan rumah pertemuan puncak ke-17 APEC, Singapura juga tidak mau tertinggal dalam perang mode itu. Apalagi sekalipun ini adalah untuk kedua kalinya menjadi tuan rumah APEC, pada tahun 1990an Singapura tidak berkesempatan untuk unjuk gigi karena tradisi itu belum terbentuk.</p><p>&#13;
 Menurut laman resmi APEC Singapura, dalam sesi foto bersama itu pemerintah Singapura menyiapkan sebuah kostum seragam untuk para pemimpin negara/pemerintahan yang disebut sebagai Kain Peranakan Singapura.</p><p>&#13;
 Pakaian karya salah satu perancang busana ternama Singapura Wykidd Song --yang telah berkiprah dalam industri busana selama 16 tahun terakhir-- itu merupakan cerminan masyarakat Singapura yang multi budaya. Masyarakat Singapura terdiri dari keturunan China, India dan Melayu.</p><p>&#13;
 "Hal pertama yang ingin saya tangkap adalah cerminan Singapura ... saya juga mencoba menangkap kekhasan `Asia` dalam desain itu. Saya melihat kebudayaan Peranakan sebagai campuran dari berbagai macam budaya di Asia Tenggara, seperti yang terdapat di Singapura," kata Song.</p><p>&#13;
 Untuk busana pemimpin pemerintah/negara wanita, Song menggunakan banyak detil dari bordir dalam desainnya sekalipun model busana tetap semi formal.</p><p>&#13;
 Ia juga menggunakan sutra dan warna-warna cerah bagi para pemimpin negara/pemerintahan agar selaras dengan cuaca Singapura.</p><p>&#13;
 Warna-warna yang digunakan dalam busana itu akan selaras dengan warna resmi logo APEC Singapura yaitu hijau, biru dan merah. Para pemimpin negara laki-laki akan mengenakan busana berwarna biru, merah atau hijau sedangkan para pemimpin negara yang wanita mengenakan busana merah.</p><p>&#13;
 Busana itu juga dilengkapi dengan asesoris manset terbuat dari batu mulia, topaz biru, merah rhodolite atau hijau peridot. Sedangkan untuk wanita disediakan bros yang terbuat dari batu mulia merah rhodolite.</p><p>&#13;
 Sesi foto itu sendiri akan dilakukan di Esplanade, salah satu tempat atraksi budaya kebanggaan Singapura. Pada mulanya sesi foto itu akan digelar pada Sabtu sore (14/11) namun karena Presiden AS Barack Obama baru akan hadir pada Sabtu sore dan tidak akan mengikuti acara makan malam --Obama hanya akan mengikuti pertemuan informal pada Minggu-- maka sesi foto bersama itu ditunda pada Minggu. Keterlambatan kedatangan Obama mengikuti pertemuan puncak ke-17 APEC itu diakibatkan oleh adanya peristiwa penembakan di pangkalan militer AS di Texas yang menewaskan 13 prajurit AS.</p><p>&#13;
 APEC adalah forum kerja sama ekonomi Asia Pasifik yang terbentuk pada 1989 di Canbera-Australia. APEC telah melaksanakan langkah besar dalam menggalang kerjasama ekonomi sehingga menjadi suatu forum konsultasi, dialog dan sebagai lembaga informal yang kerjasama ekonominya berpedoman melalui pendekatan pasar bebas bersama berdasarkan sukarela, melakukan inisiatif secara kolektif dan untuk mendukung keberhasilannya dilakukan konsultasi yang intensif terus menerus diantara anggotanya.</p><p>&#13;
 Pada awalnya terdapat 12 negara sebagai pendiri yaitu Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Indonesia, Jepang, Republik Korea, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat. </p><p>&#13;
 Sejak saat itu telah menjadi wahana utama di kawasan Asia Pasifik dalam meningkatkan keterbukaan dan praktik kerja sama ekonomi sehingga dapat menarik masukan beberapa negara yaitu Republik Rakyat China, Hongkong-China dan China Taipe untuk bergabung pada 1991 yang kemudian disusul masuknya Meksiko dan Papua Nugini tahun 1993 serta Chili pada 1994.</p><p>&#13;
 Sedangkan tiga ekonomi anggota terakhir yaitu Federasi Rusia, Peru dan Vietnam bergabung dalam forum APEC tahun 1998.</p><p>&#13;
 Beranggotakan 21 anggota Ekonomi, APEC merupakan forum kerja sama ekonomi di wilayah Asia-Pasifik yang bersifat sukarela, informal, dan tidak mengikat.</p><p>&#13;
 APEC bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi kawasan dan memperkuat kerja sama ekonomi Asia-Pasifik melalui peningkatan volume perdagangan dan investasi.</p><p>&#13;
 Dalam perkembangannya APEC memiliki peran cukup strategis dengan penduduk sekitar 2 miliar jiwa atau lebih dari 40 persen populasi dunia dan mewakili 45 persen nilai perdagangan dunia (1996) --sebuah pasar potensial untuk perdagangan barang, jasa dan sumber daya manusia.(*)</p></div></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div class="post-content" style="margin-top: 20px;" readability="88">Singapura (ANTARA News) &#8211; Deretan kepala negara/pemerintahan dalam balutan busana &#8220;cantik&#8221; dengan latar belakang pemandangan terindah di Negeri Singa.
<p>&#13;<br />
 Panorama itu adalah satu dari sejumlah kekhasan pertemuan puncak Forum Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC).</p>
<p>&#13;<br />
 Tradisi yang telah berlangsung lebih dari 10 tahun itu dimulai pada 1993 ketika Presiden Amerika Serikat Bill Clinton mulai mendadani para tamunya di pertemuan puncak APEC di Seattle, Amerika Serikat, dengan seragam jaket penerbang.</p>
<p>&#13;<br />
 Dan bagai suatu tradisi baru yang tampak menyenangkan, kebiasaan itu terus berlanjut dan tetap dipegang teguh oleh para tuan rumah APEC hingga tahun ke 17 penyelenggaraan pertemuan puncak APEC.</p>
<p>&#13;<br />
 Oleh karena itu tak heran setiap menjelang pertemuan puncak APEC, tuan rumah tidak hanya sibuk menyiapkan lokasi dan pelaksanaan pertemuan itu, namun juga membahas busana apa yang paling pantas digunakan untuk sesi foto para pemimpin ekonomi negara-negara APEC.</p>
<p>&#13;<br />
 Tak boleh sembarang busana, karena secara tidak tertulis tahun demi tahun setiap negara berusaha menunjukkan busana &#8220;tradisonal&#8221; teranggun mereka. Busana itu &#8211;yang tidak selalu berupa busana tradisional&#8211; secara menyeluruh mewakili kekhasan budaya sang tuan rumah.</p>
<p>&#13;<br />
 Tak pelak lagi ajang pertemuan puncak APEC pun berubah menjadi salah satu panggung pertunjukan busana dengan para kepala negara/pemerintahan sebagai modelnya. </p>
<p>&#13;<br />
 Bill Clinton memulai ide untuk menyeragamkan koleganya tapi Presiden Indonesia Soeharto adalah sosok kunci yang menjadikan hal itu suatu tradisi ketika ia mengikuti jejak Clinton di Bogor.</p>
<p>&#13;<br />
 Ketika seluruh kepala pemerintahan/negara APEC kemudian &#8220;boyongan&#8221; ke Bogor, Indonesia, satu tahun berikutnya, Pemerintah Indonesia enggan kalah, meminta mereka mengenakan kemeja batik lengan panjang sebelum sesi foto bersama.</p>
<p>&#13;<br />
 Selain pencapaian bersama &#8220;Target Bogor&#8221; (Bogor Goals) di Bogor dalam pertemuan APEC itu, kenangan tentang deretan para kepala negara/pemerintahan mengenakan kemeja batik lengan panjang sambil saling bercakap-cakap dan bercanda akrab akan selalu menjadi bagian dari cerita manis pertemuan puncak di Bogor itu.</p>
<p>&#13;<br />
 Setelah itu, berturut-turut satu persatu negara tuan rumah APEC unjuk gigi. Kimono sutra biru Jepang sebagai pelapis jas pada pertemuan puncak APEC tahun 1995 di Osaka, baju barong tagalog di pertemuan APEC Filipina, jaket kulit di Kanada, baju bermotif khas di Kuala Lumpur, jaket berlayar di pertemuan APEC Auckland Selandia Baru tahun 1999, kain tenun di Brunei Darussalam, baju sutra bordir Shanghai di China, guayabera di pertemuan APEC Los Cabos Meksiko 2002, sutra bordir Thailand di Bangkok, chamanto di Santiago Chili, ao dai dalam pertemuan APEC Vietnam 2006, dan jaket hujan di Sydney 2007.</p>
<p>&#13;<br />
 Arti penting dari pemilihan busana itu bahkan sempat membuat publik di Australia berdebat panjang mengenai busana apa yang paling pas untuk digunakan oleh para pemimpin negara/pemerintahan di pertemuan puncak APEC Sydney. Busana apa yang paling mencerminkan Australia, yang membuat dunia internasional mengingat Australia ketika puluhan tahun kemudian melihat kembali foto tersebut.</p>
<p>&#13;<br />
 Sama seperti bagaimana dunia akan selalu mengingat deretan kepala negara/pemerintahan dalam balutan poncho berwarna coklat polos dalam sesi foto APEC ke-16 di Lima, Peru. </p>
<p>&#13;<br />
 Poncho adalah pakaian tradisional Peru, terbuat dari bulu Alpaca. Baju hangat itu biasanya dikenakan oleh suku-suku Indian di Peru untuk menahan diri dari serangan angin dan hujan. Pakaian satu lembar itu hanya punya satu lubang di tengahnya untuk kepala kita masuk.  </p>
<p>&#13;<br />
 Sekalipun Poncho makin populer setelah Clint Eastwood memakainya dalam film &#8220;<em>Man with No Name </em>dan<em> Dollars Trilogy</em>&#8221; tapi menatap deretan para pemimpin negara/pemerintahan itu dalam balutan poncho warna coklat dapat menyisakan senyum bagi sejumlah orang, karena para pemimpin ekonomi APEC itu tampak bagai berselimut. </p>
<p><strong>Kain Peranakan Singapura</strong><br/>&#13;<br />
 Sebagai tuan rumah pertemuan puncak ke-17 APEC, Singapura juga tidak mau tertinggal dalam perang mode itu. Apalagi sekalipun ini adalah untuk kedua kalinya menjadi tuan rumah APEC, pada tahun 1990an Singapura tidak berkesempatan untuk unjuk gigi karena tradisi itu belum terbentuk.</p>
<p>&#13;<br />
 Menurut laman resmi APEC Singapura, dalam sesi foto bersama itu pemerintah Singapura menyiapkan sebuah kostum seragam untuk para pemimpin negara/pemerintahan yang disebut sebagai Kain Peranakan Singapura.</p>
<p>&#13;<br />
 Pakaian karya salah satu perancang busana ternama Singapura Wykidd Song &#8211;yang telah berkiprah dalam industri busana selama 16 tahun terakhir&#8211; itu merupakan cerminan masyarakat Singapura yang multi budaya. Masyarakat Singapura terdiri dari keturunan China, India dan Melayu.</p>
<p>&#13;<br />
 &#8220;Hal pertama yang ingin saya tangkap adalah cerminan Singapura &#8230; saya juga mencoba menangkap kekhasan `Asia` dalam desain itu. Saya melihat kebudayaan Peranakan sebagai campuran dari berbagai macam budaya di Asia Tenggara, seperti yang terdapat di Singapura,&#8221; kata Song.</p>
<p>&#13;<br />
 Untuk busana pemimpin pemerintah/negara wanita, Song menggunakan banyak detil dari bordir dalam desainnya sekalipun model busana tetap semi formal.</p>
<p>&#13;<br />
 Ia juga menggunakan sutra dan warna-warna cerah bagi para pemimpin negara/pemerintahan agar selaras dengan cuaca Singapura.</p>
<p>&#13;<br />
 Warna-warna yang digunakan dalam busana itu akan selaras dengan warna resmi logo APEC Singapura yaitu hijau, biru dan merah. Para pemimpin negara laki-laki akan mengenakan busana berwarna biru, merah atau hijau sedangkan para pemimpin negara yang wanita mengenakan busana merah.</p>
<p>&#13;<br />
 Busana itu juga dilengkapi dengan asesoris manset terbuat dari batu mulia, topaz biru, merah rhodolite atau hijau peridot. Sedangkan untuk wanita disediakan bros yang terbuat dari batu mulia merah rhodolite.</p>
<p>&#13;<br />
 Sesi foto itu sendiri akan dilakukan di Esplanade, salah satu tempat atraksi budaya kebanggaan Singapura. Pada mulanya sesi foto itu akan digelar pada Sabtu sore (14/11) namun karena Presiden AS Barack Obama baru akan hadir pada Sabtu sore dan tidak akan mengikuti acara makan malam &#8211;Obama hanya akan mengikuti pertemuan informal pada Minggu&#8211; maka sesi foto bersama itu ditunda pada Minggu. Keterlambatan kedatangan Obama mengikuti pertemuan puncak ke-17 APEC itu diakibatkan oleh adanya peristiwa penembakan di pangkalan militer AS di Texas yang menewaskan 13 prajurit AS.</p>
<p>&#13;<br />
 APEC adalah forum kerja sama ekonomi Asia Pasifik yang terbentuk pada 1989 di Canbera-Australia. APEC telah melaksanakan langkah besar dalam menggalang kerjasama ekonomi sehingga menjadi suatu forum konsultasi, dialog dan sebagai lembaga informal yang kerjasama ekonominya berpedoman melalui pendekatan pasar bebas bersama berdasarkan sukarela, melakukan inisiatif secara kolektif dan untuk mendukung keberhasilannya dilakukan konsultasi yang intensif terus menerus diantara anggotanya.</p>
<p>&#13;<br />
 Pada awalnya terdapat 12 negara sebagai pendiri yaitu Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Indonesia, Jepang, Republik Korea, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat. </p>
<p>&#13;<br />
 Sejak saat itu telah menjadi wahana utama di kawasan Asia Pasifik dalam meningkatkan keterbukaan dan praktik kerja sama ekonomi sehingga dapat menarik masukan beberapa negara yaitu Republik Rakyat China, Hongkong-China dan China Taipe untuk bergabung pada 1991 yang kemudian disusul masuknya Meksiko dan Papua Nugini tahun 1993 serta Chili pada 1994.</p>
<p>&#13;<br />
 Sedangkan tiga ekonomi anggota terakhir yaitu Federasi Rusia, Peru dan Vietnam bergabung dalam forum APEC tahun 1998.</p>
<p>&#13;<br />
 Beranggotakan 21 anggota Ekonomi, APEC merupakan forum kerja sama ekonomi di wilayah Asia-Pasifik yang bersifat sukarela, informal, dan tidak mengikat.</p>
<p>&#13;<br />
 APEC bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi kawasan dan memperkuat kerja sama ekonomi Asia-Pasifik melalui peningkatan volume perdagangan dan investasi.</p>
<p>&#13;<br />
 Dalam perkembangannya APEC memiliki peran cukup strategis dengan penduduk sekitar 2 miliar jiwa atau lebih dari 40 persen populasi dunia dan mewakili 45 persen nilai perdagangan dunia (1996) &#8211;sebuah pasar potensial untuk perdagangan barang, jasa dan sumber daya manusia.(*)</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kebumen.info/index/perang-mode-di-pertemuan-puncak-apec.xhtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lobi Politik dan Ekonomi di Asia</title>
		<link>http://www.kebumen.info/index/lobi-politik-dan-ekonomi-di-asia.xhtml</link>
		<comments>http://www.kebumen.info/index/lobi-politik-dan-ekonomi-di-asia.xhtml#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 17:07:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita karangan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.antaranews.com/berita/1258132057/lobi-politik-dan-ekonomi-di-asia</guid>
		<description><![CDATA[<div><div class="post-content" style="margin-top: 20px;" readability="61"><strong>Oleh Bob Widyahartono M.A. *) </strong><p>Jakarta (ANTARA News) - Kegiatan negosiasi politik dan ekonomi di Asia (China, Jepang, Korea Selatan, India dan negara anggota perhimpunan bangsa Asia Tenggara/ASEAN) umumnya oleh kebanyakan anggota eksekutif, legislatif dan pengamat dipersepsi sebagai formalitas, dengan masing-masing pihak menyampaikan pokok pokok untuk dikompromikan dan kemudian disepkati. Kegiatan lobi itu mendahului proses negosiasi formal. </p><p>Keahlian dan pengetahuan bidang yang ditekuni dan bukan yang umum umum saja. Justru kini makin diperlukan dalam melakukan <em>lobbying</em> di Asia (China, Jepang, Korea Selatan, India dan Negara anggota ASEAN) sebagai kawasan yang makin dinamis dan dipersepsi sebagai pemeran dunia yang makin diunggulkan dibandingkan Amerika Serikat dan Uni Eropa. </p><p>Karena realita di atas itu, perlu para aktor lobi, baik yang merasa sudah berpengalaman maupun para pemula, perlu menyadari beberapa kualifikasi dasar berikut ini: </p><p>Pertama, kesegaran fisik dan mental untuk berpikir dan bertutur kata dalam bahasa, termasuk bahasa Inggris yang jelas, tegas/mantap, sesuai dengan obyek lobi; kedua, menjadi pendengar sebagai bagian komunikasi yang terfokus dan tidak menunjukkan bahasa tubuh yang bimbang dan meragu; dan ketiga, senantiasa meng-up date pengetahuan untuk menyiapkan diri menjelang jadwal lobi yang disepakati.</p><p>Darimana isitilah <em>lobby</em> dan kegiatan "melobi"? <em>Lobby</em> adalah suatu ruang tunggu dalam gedung pertemuan umum, hotel, perkantoran instansi pemerintahan atau swasta, ruang makan klub olahraga seperti golf, tennis dan renang. Dalam ruang demikian itu dilakukan pendekatan/negosiasi yang sifatnya masih non-formal. </p><p>Investasi dalam pengembangan mutu pelobi harus diadakan, karena ia harus aktif dan menyediakan waktu penuh untuk tugas dan tanggung jawab sebagai pelobi. Seorang pelobi harus sehat fisik maupun mental dan tidak mudah bosanan. </p><p>Banyak kali terungkap masih belum cukup siap dalam arti kompetensi para pelobi (<em>lobbyist</em>) di Indonesia, baik dalam politik maupun ekonomi. Apalagi kalau mentalitasnya sengaja menutup-tutupi ketidakmampuan dalam memberi bobot dalam proses dan "mau cepat beres" (<em>quick fix mentality</em>) dan tidak menghargai "upaya dan waktu lawan pelobi" yang bermakna. Penerjemah pun yang diberdayakan tidak selalu bermutu dalam pemahaman materi pembicaraan. <em>So, what next</em>?</p><p>Para penggalang pelobi professional harus berpengalaman dalam membekali para pelobi untuk setiap bahan dan bahasan serta anggaran yang memadai tanpa pemborosan waktu dan dana. Berarti pelobi sebagai profesional ia harus tetap mau belajar atau belajar kembali dan mengenali budaya/sikap pandang lawan pelobi. </p><p>Dalam masyarakat internasional baik pemerintahan maupun kegiatan bisnis peranan pelobi (<em>lobbyist</em>) makin strategis untuk memperlancar rangkaian negosiasi. Banyak kali terungkap kesan pe-lobi itu dadakan satu kali <em>einmalig</em> untuk kepentingan politik sedangkan antara lobi politik dan ekonomi saling terkait. </p><p>Banyak mantan elit legislatif maupun ekskekutif menonjolkan diri sebagai pelobi, sok sibuk, ikut ikutan dalam lobi tanpa "persiapan dan program". Pengamatan mengungkapkan ada saja pe-lobi menonjolkan diri dengan <em>self publicit</em>y di hadapan media cetak atau elektronik, yang justru terungkap kedangkalan dan menimbulkan situasi meragu dalam negosiasi yang lebih matang.</p><p>Sebagai pelobi, kalau tidak menguasai bahasa para lawan pelobi, hendaknya jauh jauh hari dipersiapkan penerjemah profesional dan benar-benar mendalami sinyal-sinyal non-verbal, bahasa tubuh dan gaya komunikasi lawan penerjemah atau lawan bicara. Pelobi melalui penerjemah perlu mengukur diri dalam kecepatan menyampaikan pemikiran dan dengan menghindari sikap serba tergesa nadanya (<em>tone</em>) mendesakkan pendirian atau gagasan, yang justru membuat penerjemahnya serba bingung. </p><p>Kembali pada persyaratan baik mental, pengetahuan maupun sarana dana belakangan ini perlu ketrampilan berteknologi informasi, telepon seluler (ponsel), Internet, Facebook, untuk mampu mengungkapkan substansi dalam tahapan tahapan melobi. Kegiatan ini tidak sekali atau instan membuahkan hasil (<em>outpu</em>t). Harus diingat pula bahwa <em>counter lobbyist</em> juga tidak selalu siap sedia berkeinginan mencapai hasil. </p><p>Jumlah pelobi itu tidak hanya dalam jumlah yang itu-itu saja untuk kepentingan politik dan atau bisnis. Perlu dikembangkan kader untuk awalnya menjadi pengikut dengan mengobservasi/mencatat, kemudian setelah beberapa kali mampu menjadi pelobi saat dibutuhkan untuk fokus tertentu. </p><p>Bekal pengetahuan adalah penting untuk juga menjalani semacam "internalisasi" dulu, agar memadai dalam mutu dan tidak menimbulkan kesan di pihak lawan pe-lobi sebagai dangkal tanpa persiapan dan sok tahu banyak.</p><p>Pertanyaan yang menggelitik: apakah untuk menjadi pelobi dan kemudian negosiator professional itu melalui pendidikan formal dengan sertifikat atau ijazah khusus sebagai pertanda telah merampungkan studi formal?</p><p>Sertifikat itu, sepertinya pelatihan formal belumlah menunjukkan kualifikasi dalam praktiknya. Hal yang lebih berbobot nilainya adalah minat, persiapan untuk setiap sesi lobi, kemauan berinteraksi sebagai proses ulet, tidak arogan/sombong dan tidak menunjukkan sikap boros dana dan boros waktu.</p><p>Inilah pembelajaran kembali seni melakukan lobi yang patut disadari, dipahami dan setiap jangka waktu disegarkan. (*)</p><p><em>*) Bob Widyahartono M.A.(bobwidya@cbn.net.id) adalah pengamat ekonomi Asia Timur; Lektor Kepala di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara (FE Untar) Jakarta.</em></p></div></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div class="post-content" style="margin-top: 20px;" readability="61"><strong>Oleh Bob Widyahartono M.A. *) </strong>
<p>Jakarta (ANTARA News) &#8211; Kegiatan negosiasi politik dan ekonomi di Asia (China, Jepang, Korea Selatan, India dan negara anggota perhimpunan bangsa Asia Tenggara/ASEAN) umumnya oleh kebanyakan anggota eksekutif, legislatif dan pengamat dipersepsi sebagai formalitas, dengan masing-masing pihak menyampaikan pokok pokok untuk dikompromikan dan kemudian disepkati. Kegiatan lobi itu mendahului proses negosiasi formal. </p>
<p>Keahlian dan pengetahuan bidang yang ditekuni dan bukan yang umum umum saja. Justru kini makin diperlukan dalam melakukan <em>lobbying</em> di Asia (China, Jepang, Korea Selatan, India dan Negara anggota ASEAN) sebagai kawasan yang makin dinamis dan dipersepsi sebagai pemeran dunia yang makin diunggulkan dibandingkan Amerika Serikat dan Uni Eropa. </p>
<p>Karena realita di atas itu, perlu para aktor lobi, baik yang merasa sudah berpengalaman maupun para pemula, perlu menyadari beberapa kualifikasi dasar berikut ini: </p>
<p>Pertama, kesegaran fisik dan mental untuk berpikir dan bertutur kata dalam bahasa, termasuk bahasa Inggris yang jelas, tegas/mantap, sesuai dengan obyek lobi; kedua, menjadi pendengar sebagai bagian komunikasi yang terfokus dan tidak menunjukkan bahasa tubuh yang bimbang dan meragu; dan ketiga, senantiasa meng-up date pengetahuan untuk menyiapkan diri menjelang jadwal lobi yang disepakati.</p>
<p>Darimana isitilah <em>lobby</em> dan kegiatan &#8220;melobi&#8221;? <em>Lobby</em> adalah suatu ruang tunggu dalam gedung pertemuan umum, hotel, perkantoran instansi pemerintahan atau swasta, ruang makan klub olahraga seperti golf, tennis dan renang. Dalam ruang demikian itu dilakukan pendekatan/negosiasi yang sifatnya masih non-formal. </p>
<p>Investasi dalam pengembangan mutu pelobi harus diadakan, karena ia harus aktif dan menyediakan waktu penuh untuk tugas dan tanggung jawab sebagai pelobi. Seorang pelobi harus sehat fisik maupun mental dan tidak mudah bosanan. </p>
<p>Banyak kali terungkap masih belum cukup siap dalam arti kompetensi para pelobi (<em>lobbyist</em>) di Indonesia, baik dalam politik maupun ekonomi. Apalagi kalau mentalitasnya sengaja menutup-tutupi ketidakmampuan dalam memberi bobot dalam proses dan &#8220;mau cepat beres&#8221; (<em>quick fix mentality</em>) dan tidak menghargai &#8220;upaya dan waktu lawan pelobi&#8221; yang bermakna. Penerjemah pun yang diberdayakan tidak selalu bermutu dalam pemahaman materi pembicaraan. <em>So, what next</em>?</p>
<p>Para penggalang pelobi professional harus berpengalaman dalam membekali para pelobi untuk setiap bahan dan bahasan serta anggaran yang memadai tanpa pemborosan waktu dan dana. Berarti pelobi sebagai profesional ia harus tetap mau belajar atau belajar kembali dan mengenali budaya/sikap pandang lawan pelobi. </p>
<p>Dalam masyarakat internasional baik pemerintahan maupun kegiatan bisnis peranan pelobi (<em>lobbyist</em>) makin strategis untuk memperlancar rangkaian negosiasi. Banyak kali terungkap kesan pe-lobi itu dadakan satu kali <em>einmalig</em> untuk kepentingan politik sedangkan antara lobi politik dan ekonomi saling terkait. </p>
<p>Banyak mantan elit legislatif maupun ekskekutif menonjolkan diri sebagai pelobi, sok sibuk, ikut ikutan dalam lobi tanpa &#8220;persiapan dan program&#8221;. Pengamatan mengungkapkan ada saja pe-lobi menonjolkan diri dengan <em>self publicit</em>y di hadapan media cetak atau elektronik, yang justru terungkap kedangkalan dan menimbulkan situasi meragu dalam negosiasi yang lebih matang.</p>
<p>Sebagai pelobi, kalau tidak menguasai bahasa para lawan pelobi, hendaknya jauh jauh hari dipersiapkan penerjemah profesional dan benar-benar mendalami sinyal-sinyal non-verbal, bahasa tubuh dan gaya komunikasi lawan penerjemah atau lawan bicara. Pelobi melalui penerjemah perlu mengukur diri dalam kecepatan menyampaikan pemikiran dan dengan menghindari sikap serba tergesa nadanya (<em>tone</em>) mendesakkan pendirian atau gagasan, yang justru membuat penerjemahnya serba bingung. </p>
<p>Kembali pada persyaratan baik mental, pengetahuan maupun sarana dana belakangan ini perlu ketrampilan berteknologi informasi, telepon seluler (ponsel), Internet, Facebook, untuk mampu mengungkapkan substansi dalam tahapan tahapan melobi. Kegiatan ini tidak sekali atau instan membuahkan hasil (<em>outpu</em>t). Harus diingat pula bahwa <em>counter lobbyist</em> juga tidak selalu siap sedia berkeinginan mencapai hasil. </p>
<p>Jumlah pelobi itu tidak hanya dalam jumlah yang itu-itu saja untuk kepentingan politik dan atau bisnis. Perlu dikembangkan kader untuk awalnya menjadi pengikut dengan mengobservasi/mencatat, kemudian setelah beberapa kali mampu menjadi pelobi saat dibutuhkan untuk fokus tertentu. </p>
<p>Bekal pengetahuan adalah penting untuk juga menjalani semacam &#8220;internalisasi&#8221; dulu, agar memadai dalam mutu dan tidak menimbulkan kesan di pihak lawan pe-lobi sebagai dangkal tanpa persiapan dan sok tahu banyak.</p>
<p>Pertanyaan yang menggelitik: apakah untuk menjadi pelobi dan kemudian negosiator professional itu melalui pendidikan formal dengan sertifikat atau ijazah khusus sebagai pertanda telah merampungkan studi formal?</p>
<p>Sertifikat itu, sepertinya pelatihan formal belumlah menunjukkan kualifikasi dalam praktiknya. Hal yang lebih berbobot nilainya adalah minat, persiapan untuk setiap sesi lobi, kemauan berinteraksi sebagai proses ulet, tidak arogan/sombong dan tidak menunjukkan sikap boros dana dan boros waktu.</p>
<p>Inilah pembelajaran kembali seni melakukan lobi yang patut disadari, dipahami dan setiap jangka waktu disegarkan. (*)</p>
<p><em>*) Bob Widyahartono M.A.(bobwidya@cbn.net.id) adalah pengamat ekonomi Asia Timur; Lektor Kepala di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara (FE Untar) Jakarta.</em></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kebumen.info/index/lobi-politik-dan-ekonomi-di-asia.xhtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngenteni ’’Sampyuh Ageng’’</title>
		<link>http://www.kebumen.info/index/ngenteni-%e2%80%99%e2%80%99sampyuh-ageng%e2%80%99%e2%80%99.xhtml</link>
		<comments>http://www.kebumen.info/index/ngenteni-%e2%80%99%e2%80%99sampyuh-ageng%e2%80%99%e2%80%99.xhtml#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 03:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jawa tengah]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[seputar jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2009/10/11/462</guid>
		<description><![CDATA[<div><div class="first article1" readability="73">
				<h4>Pamomong</h4>

                                				<h2>Ngenteni ’’Sampyuh Ageng’’</h2>
						<a href="#" class="image"><img src="http://suaramerdeka.com/foto_kejawen/7b87c18779f1676f51770b67e05309ee.jpg" alt="image" width="300" height="300" hspace="5" align="left" /></a>
								<p>KANTHI perang, diajab bakal muncul pemenang lan ana kerampungan. Nanging nyatane ora mesthi kaya mengkono. Ora nglairake pemenang saka salah siji ing antarane loro sing padha bandayuda, perang malah sok-sok mung ngloropake loro-lorone dadi bathang: sampyuh!</p>
<p>Kanthi kebak simbolik sampyuh kuwi digambarake ing ’’ukara’’ pungkasan Dentawyanjana utawa carakan Jawa. Unine ’’maga bathanga’’. ’’Ukara’’ iki kerep ditegesi ’’(padha-padha) dadi bathang utawa padha-padha mati’’.<br />Minangka ’’ukara’’ sing pungkasan, mesthi wae ana pratelan sadurunge. ’’Padha jayanya’’ unine. Tegese padha jayane utawa padha sektine. <br />Jlentrehe, ’’ukara’’ pungkasan sing dirembug mau, kaya sing umume wis disumurupi dening para maos, nggambarake ending lelakone Dora lan Sembada. Dene lelorone dhapur batur tumrap Aji Saka. Loro-lorone mung wong-wong sing bisane sendika dhawuh marang bendarane. Diprentah ngulon ya ngulon, dikongkon ngetan ya mesthi wae ngetan.<br />Kacarita, Dora lan Sembada tansah setya tuhu marang bendarane, Ajisaka. Ing sawijining dina, Ajisaka sing sekawit cumondhok ing Pulo Majeti, nedya andon lelana menyang tanah Jawa. Dora sing ngancani ngumbarane Ajisaka, dene Sembada tetep mapan ing Majeti. Sadurunge lunga, Ajisaka prentah Sembada supaya njaga pusaka-pusakane. ’’Aja pisan-pisan kokulungake pusaka iki marang sapa wae, kejaba marang aku pribadi,’’ pratelane Ajisaka.<br />Tumeka ing tanah Jawa, akhire Ajisaka kasil nyirnakake mahadurja Medhangkamolan, Dewatacengkar, sing senengane mangan daging menungsa. Ajisaka banjur ngratoni Medhangkamolan.<br />Nalika madeg ratu, dheweke kelingan manawa isih ninggal pusaka ing Majeti. Mula, banjur utusan marang Dora supaya njupuk pusaka mau. <br />Tumeka ing kana, Dora mratelakake prentahe Ajisaka. Nanging kanggone Sembada, angel bisane percaya marang kandhane Dora. <br />Sebab, Ajisaka sadurunge ninggalake Majeti wis wanti-wanti manawa aja pisan-pisan pusaka iku diulungake sapa wae yen ora marang sing nduwe dhewe, ya Ajisaka kuwi.<br />Dene tumrap Sembada, aluwung bali kari aran yen nganti ngadhep Ajisaka tanpa nggawa pusaka mau. Kabeh rumangsa kudu ngestokake dhawuh, kabeh padha rumangsa bener. Mula, banjur uga nggegegi marang benere dhewe. <br />Mesthi wae yen rumangsa manawa mung awake dhewe  sing bener, padha wae karo nganggep liyan kuwi sing luput. Kosokbaline rumangsa yen bener, mesthi wae ora trima lamun benere mau diterak liyan.<br />Ora cukup adu gunem, Dora lan Sembada banjur adu atosing balung wuleding kulit. Lelorone perang tandhing. Jroning perang tandhing, kabeh-kabeh padha ngetog katiyasane. Ngira manawa kanthi ngetog katiyasan iku temene nuduhake kekuwatan lan keunggulane. Nanging nyatane ora mesthi kaya mengkono.<br />Jroning keblebegan nepsu ngetokake kekuwatan, temene ing kono malah binabar keringkihan. Yen ing sisih kiwa lagi diketog kekuwatan, ing sisih tengen temene lagi kagelar kelemahan. Mengkono sateruse.<br />Dora lan Sembada mujudake utusan, dhapur kongkonan sing kudu ’’data(n) suwala’’ marang kewajiban sing disampirake ing pundhake. Dora lan Sembada uga wis padha-padha nuduhake kasekten lan daya kekuwatane. Nanging lelorone kudu ngundhuh wohing panggawe —ora mung penggawene dhewe, nanging uga penggawene wong sing dilabuh-labeti sing jebul kurang bisa ngrasakake apa sing dirasakake bature.<br />Baratayuda<br />Yen ngrembug perang, mesthi wae ora bisa nglalekake Baratayuda. Iki mono perang gedhe sing dadi ’’jantunge’’ Mahabarata. Perang antarane Pandhawa lan Kurawa iki dudu salumrahe perang, nanging perang sing wis dadi gambaran paling komplet. Ing kono alesan apa wae bisa digawe tumrap perang, cara apa wae bisa tinempuh jroning perang, sanajan perang saya dadi papan gumelare samubarang sing maone mokal dadi mungkin, sing maone kira-kira dadi luwih mesthi.<br />Baratayuda, sing kebak banjir getih lan luh iku, tetep wae dening para dhalang sinebut minangka perang. Perang antarane ala lan becik, lambang perang nepsune manungsa. Mula, ora ana siji wae pawadan endha saka perang. Ora sing saka pihak Kurawa, apa maneh sing saka barisane Pandhawa.<br />Jroning crita wayang mau, paraga(tama) pancen jejer minangka wayang sing kapan wae kudu tansah siyaga maju perang. Jroning wayang uga ana dhalang sing ngatur metu-mlebune wayang, yen perlu malah pati-uripe wayang. Saora-orane kuwi sing ditindakake dening Kresna, sing ora mung dadi botohe Pandhawa, nanging uga sing wis ngerti samubarang wadi jroning skenario gedhe perang mau.<br />Banjur apa entuk-entukan perang sing ndadekake kaya-kaya apa wae banjur dadi mandheg, banjur kebeh kudu ngenerake pandeleng ing Kurusetra? Sadurunge mesthi kudu dikandhakake manawa embuh janjane cilik apa gedhe, embuh sentosa apa ringkih, kabeh pihak mesthi rumangsa manawa posisine iku bener. Kejaba iku, padha duwe optimisme. Optimistis yen bakal menang.<br />Nanging apa nyatane? Bratayuda dumadi ora mung sedina-rong dina. Baratayuda ora mung nyeret wong siji-loro ngadani yuda lan pungkasane dadi bebanten. Baratayuda akhire uga ora mung njaluk bebanten arupa jiwa-ragane para penggedhe, nanging luwih akeh mangan nyawane para kawula. <br />Banjur sapa sing menang? Kayadene peribahasa ’’menang jadi arang, kalah jadi abu’’, Baratayuda temene sithik wae ora nyisihake kamenangan tumrap sapa wae. Dudu kanggo Pandhawa, apamaneh Kurawa. Ending Baratayuda ing tata batin pancen mung ana pihak siji sing kalah. Kamangka sing satemene mung dadi episode sampyuh. Sampyuh ageng!<br />Tenan, sapa sing kandha Pandhawa kelakon ngregem kamenangan? Kamenangan model apa sing bisa diundhuh? Kanikmatan apa sing bisa direng­kuh? Ora ana, kabeh mung dadi sepa, kabeh mung kari sepi sing ngrerujit ati. <br />Pungkasane, kepriye yen ’’sato kewan’’ loro padha memungsuhan lan banjur perang tandhing? Apa iya baya mung bisa ditandhingi dening sura (hiu), upamane? Yen baya lumawan sura bakal padha sektine, padha jayane, nanging uga banjur ’’maga bathanga’’, apa cecak bakal luwih gampang sirnane dening baya? Apa ora malah kelakon sampyuh ageng yen kabeh-kabeh banjur padha triwikrama, merga rumangsa mung dadi batur, dhapur kongkonan, lan rumangsa mung saderma nglakoni? (35)</p><p>—Sucipto Hadi Purnomo, mulang kabudayan ing Jurusan Basa lan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang (Unnes)</p>				(/)
                                <p>
				</p>
				<p align="right">
				<!-- AddThis Button BEGIN -->
				<a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20" onmouseover="return addthis_open(this, '', '[URL]', '[TITLE]')" onmouseout="addthis_close()" onclick="return addthis_sendto()"><img src="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" width="125" height="16" alt="Bookmark and Share" /></a><!-- AddThis Button END --></p>
									<h5><a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/462">Baca Komentar</a> &#124;
					<a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/462">Kirim Komentar</a></h5>
						</div></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div class="first article1" readability="73">
<h4>Pamomong</h4>
<h2>Ngenteni Sampyuh Ageng</h2>
<p>						<a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2009/10/11/462#" class="image"><img src="http://suaramerdeka.com/foto_kejawen/7b87c18779f1676f51770b67e05309ee.jpg" alt="image" width="300" height="300" hspace="5" align="left" /></a></p>
<p>KANTHI perang, diajab bakal muncul pemenang lan ana kerampungan. Nanging nyatane ora mesthi kaya mengkono. Ora nglairake pemenang saka salah siji ing antarane loro sing padha bandayuda, perang malah sok-sok mung ngloropake loro-lorone dadi bathang: sampyuh!</p>
<p>Kanthi kebak simbolik sampyuh kuwi digambarake ing ukara pungkasan Dentawyanjana utawa carakan Jawa. Unine maga bathanga. Ukara iki kerep ditegesi (padha-padha) dadi bathang utawa padha-padha mati.<br />Minangka ukara sing pungkasan, mesthi wae ana pratelan sadurunge. Padha jayanya unine. Tegese padha jayane utawa padha sektine. <br />Jlentrehe, ukara pungkasan sing dirembug mau, kaya sing umume wis disumurupi dening para maos, nggambarake ending lelakone Dora lan Sembada. Dene lelorone dhapur batur tumrap Aji Saka. Loro-lorone mung wong-wong sing bisane sendika dhawuh marang bendarane. Diprentah ngulon ya ngulon, dikongkon ngetan ya mesthi wae ngetan.<br />Kacarita, Dora lan Sembada tansah setya tuhu marang bendarane, Ajisaka. Ing sawijining dina, Ajisaka sing sekawit cumondhok ing Pulo Majeti, nedya andon lelana menyang tanah Jawa. Dora sing ngancani ngumbarane Ajisaka, dene Sembada tetep mapan ing Majeti. Sadurunge lunga, Ajisaka prentah Sembada supaya njaga pusaka-pusakane. Aja pisan-pisan kokulungake pusaka iki marang sapa wae, kejaba marang aku pribadi, pratelane Ajisaka.<br />Tumeka ing tanah Jawa, akhire Ajisaka kasil nyirnakake mahadurja Medhangkamolan, Dewatacengkar, sing senengane mangan daging menungsa. Ajisaka banjur ngratoni Medhangkamolan.<br />Nalika madeg ratu, dheweke kelingan manawa isih ninggal pusaka ing Majeti. Mula, banjur utusan marang Dora supaya njupuk pusaka mau. <br />Tumeka ing kana, Dora mratelakake prentahe Ajisaka. Nanging kanggone Sembada, angel bisane percaya marang kandhane Dora. <br />Sebab, Ajisaka sadurunge ninggalake Majeti wis wanti-wanti manawa aja pisan-pisan pusaka iku diulungake sapa wae yen ora marang sing nduwe dhewe, ya Ajisaka kuwi.<br />Dene tumrap Sembada, aluwung bali kari aran yen nganti ngadhep Ajisaka tanpa nggawa pusaka mau. Kabeh rumangsa kudu ngestokake dhawuh, kabeh padha rumangsa bener. Mula, banjur uga nggegegi marang benere dhewe. <br />Mesthi wae yen rumangsa manawa mung awake dhewe sing bener, padha wae karo nganggep liyan kuwi sing luput. Kosokbaline rumangsa yen bener, mesthi wae ora trima lamun benere mau diterak liyan.<br />Ora cukup adu gunem, Dora lan Sembada banjur adu atosing balung wuleding kulit. Lelorone perang tandhing. Jroning perang tandhing, kabeh-kabeh padha ngetog katiyasane. Ngira manawa kanthi ngetog katiyasan iku temene nuduhake kekuwatan lan keunggulane. Nanging nyatane ora mesthi kaya mengkono.<br />Jroning keblebegan nepsu ngetokake kekuwatan, temene ing kono malah binabar keringkihan. Yen ing sisih kiwa lagi diketog kekuwatan, ing sisih tengen temene lagi kagelar kelemahan. Mengkono sateruse.<br />Dora lan Sembada mujudake utusan, dhapur kongkonan sing kudu data(n) suwala marang kewajiban sing disampirake ing pundhake. Dora lan Sembada uga wis padha-padha nuduhake kasekten lan daya kekuwatane. Nanging lelorone kudu ngundhuh wohing panggawe ora mung penggawene dhewe, nanging uga penggawene wong sing dilabuh-labeti sing jebul kurang bisa ngrasakake apa sing dirasakake bature.<br />Baratayuda<br />Yen ngrembug perang, mesthi wae ora bisa nglalekake Baratayuda. Iki mono perang gedhe sing dadi jantunge Mahabarata. Perang antarane Pandhawa lan Kurawa iki dudu salumrahe perang, nanging perang sing wis dadi gambaran paling komplet. Ing kono alesan apa wae bisa digawe tumrap perang, cara apa wae bisa tinempuh jroning perang, sanajan perang saya dadi papan gumelare samubarang sing maone mokal dadi mungkin, sing maone kira-kira dadi luwih mesthi.<br />Baratayuda, sing kebak banjir getih lan luh iku, tetep wae dening para dhalang sinebut minangka perang. Perang antarane ala lan becik, lambang perang nepsune manungsa. Mula, ora ana siji wae pawadan endha saka perang. Ora sing saka pihak Kurawa, apa maneh sing saka barisane Pandhawa.<br />Jroning crita wayang mau, paraga(tama) pancen jejer minangka wayang sing kapan wae kudu tansah siyaga maju perang. Jroning wayang uga ana dhalang sing ngatur metu-mlebune wayang, yen perlu malah pati-uripe wayang. Saora-orane kuwi sing ditindakake dening Kresna, sing ora mung dadi botohe Pandhawa, nanging uga sing wis ngerti samubarang wadi jroning skenario gedhe perang mau.<br />Banjur apa entuk-entukan perang sing ndadekake kaya-kaya apa wae banjur dadi mandheg, banjur kebeh kudu ngenerake pandeleng ing Kurusetra? Sadurunge mesthi kudu dikandhakake manawa embuh janjane cilik apa gedhe, embuh sentosa apa ringkih, kabeh pihak mesthi rumangsa manawa posisine iku bener. Kejaba iku, padha duwe optimisme. Optimistis yen bakal menang.<br />Nanging apa nyatane? Bratayuda dumadi ora mung sedina-rong dina. Baratayuda ora mung nyeret wong siji-loro ngadani yuda lan pungkasane dadi bebanten. Baratayuda akhire uga ora mung njaluk bebanten arupa jiwa-ragane para penggedhe, nanging luwih akeh mangan nyawane para kawula. <br />Banjur sapa sing menang? Kayadene peribahasa menang jadi arang, kalah jadi abu, Baratayuda temene sithik wae ora nyisihake kamenangan tumrap sapa wae. Dudu kanggo Pandhawa, apamaneh Kurawa. Ending Baratayuda ing tata batin pancen mung ana pihak siji sing kalah. Kamangka sing satemene mung dadi episode sampyuh. Sampyuh ageng!<br />Tenan, sapa sing kandha Pandhawa kelakon ngregem kamenangan? Kamenangan model apa sing bisa diundhuh? Kanikmatan apa sing bisa direngkuh? Ora ana, kabeh mung dadi sepa, kabeh mung kari sepi sing ngrerujit ati. <br />Pungkasane, kepriye yen sato kewan loro padha memungsuhan lan banjur perang tandhing? Apa iya baya mung bisa ditandhingi dening sura (hiu), upamane? Yen baya lumawan sura bakal padha sektine, padha jayane, nanging uga banjur maga bathanga, apa cecak bakal luwih gampang sirnane dening baya? Apa ora malah kelakon sampyuh ageng yen kabeh-kabeh banjur padha triwikrama, merga rumangsa mung dadi batur, dhapur kongkonan, lan rumangsa mung saderma nglakoni? (35)</p>
<p>Sucipto Hadi Purnomo, mulang kabudayan ing Jurusan Basa lan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang (Unnes)</p>
<p>				(/)</p>
<p align="right">
				<!-- AddThis Button BEGIN --><br />
				<a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20" onmouseover="return addthis_open(this, '', '[URL]', '[TITLE]')" onmouseout="addthis_close()" onclick="return addthis_sendto()"><img src="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" width="125" height="16" alt="Bookmark and Share" /></a><!-- AddThis Button END --></p>
<h5><a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/462">Baca Komentar</a> |<br />
					<a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/462">Kirim Komentar</a></h5>
</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kebumen.info/index/ngenteni-%e2%80%99%e2%80%99sampyuh-ageng%e2%80%99%e2%80%99.xhtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Bener Wong Jawa Urik?</title>
		<link>http://www.kebumen.info/index/apa-bener-wong-jawa-urik-2.xhtml</link>
		<comments>http://www.kebumen.info/index/apa-bener-wong-jawa-urik-2.xhtml#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 03:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jawa tengah]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[seputar jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2009/10/11/458</guid>
		<description><![CDATA[<div><div class="first article1" readability="165">
				<h4>Pamomong</h4>

                                <h7>Dening Suwardi Endraswara</h7><h2>Apa Bener Wong Jawa Urik?</h2>
						<a href="#" class="image"><img src="http://suaramerdeka.com/foto_kejawen/53902f5cb7c40c21eaee7a499a75d947.jpg" alt="image" width="300" height="224.855491329" hspace="5" align="left" /></a>
								<p>WONG Jawa pancen dhemen njarik lurik, alias urik. Ora gedhe, ora cilik, kabeh dhemen urik-urikan. Yen bocah cilik, latihan urik, dolanan adu wayang, ana sing ditekuk. Ana sing dolanan karet (uthut), ning ora beres. Ana sing seneng dolanan oyak-oyakan, dhelik-dhelikan, umpet-umpetan, esem-eseman, ning sejatine pengin njegal kanca. Iku ati Jawa. Semonoa yen gelem ngakoni.</p>
<p>Urik tegese pinter apus krama. Senengane ngepring apus. Mbulet-mbulet. Ting prungkel pikirane kaya dhadhung, muntir-muntir. Seneng nyandiwara. Kadhangkala, abang dikandhakake ijo, ijo dikandhakake abang. Beteke kepengin golek untung. Untunge dhewe sing diubres, sokur kelompoke (trahe), njur wani dolanan tembung. Tembung sing katone digawe manis manuhara, jebul sok ngemu melik. Tobat-tobat, anak kadhal jare tobil. Tobil-tobil, anak kethek jare munyuk.<br />Wong dhemen urik, uripe katon nganggo larikan, ning morak-marik. Ora karu­wan. Merga, atine pijer kepengin ngakali wong. Pengin ngukil-ukil perkara, ben ba­thine mili menyang awake dhewe. Hemmm!<br />***<br />DAYA nalar Jawa pancen akeh sing nyurung tekan jagad urik. Seneng adu-adu. Mula ana tembung adu manising rembug kaya kapuk, empuk, ning kopong mlompong. Pong-pong bolong ndhog merang ndhog sapi, pecah-pecah endhogmu siji. Ateges sing dioyak siji thil, bathine dhewe, Najan wong liya gundhul, dha ‘’PCDS’’ pecas endhahe (nuwun sewu), awake dhewe gela-gelo, seneng atine.<br />Wis-wis, wong Jawa yen wis namakake jiwa urik tansaya nggladrah. Kadhangkala tekan mbahne urik, yaiku dhemen ngglibeng. Ora perlu kaget, kadhangkala katone njaba manthuk-manthuk, mesem-mesem, ning njerone ngandhut melik. Isih mendhing yen mung melik, pamrih, sing mbebayani ana niat nendhang, nempang, njegal, lan ngebrukake. Yen wis wong liya jekangkangan, keplengkang-plengkang, sajake lega ndonya. Yen wis ngen iki lhadalah!<br />Wong seneng urik iku dhasar, gawan bayi. Ning uga ana sing kedayan seka wong kiwa tengene. Wong sing cedhak karo Sengkuni, iki sok klemak-klemek, ning mengkal-mengkal sikile. Sengkuni-isme, jebul asring mili ing getihe wong Jawa. Luwih-luwih yen wis kulina ngenam-enam tembung, tembung sing bisa ngruntuhake ati, jan tansaya mbebayani. Saya marahi gendra. <br />Tumrap sing hobi Sengkuni-isme, lagak langguke wis cetha. Biasane sok plak-plek, tembunge katon putih, memes, alus, jebul nggegirisi. Sing luwih medeni meneh, wong urik iku asring ngutip-ngutip ayat suci, ngutip tembang-tembang kuna, kanggo ngyakinake sing dijak omong. Yen wis ngono iku, adate sok njalari wong kapiluyu, kesedhot, njur katut, keli, kolu tekan jagad sing peteng. Luwih-luwih yen Sengkuni-isme mau ketemu Dornaistis, jan saya keplantrang adoh.<br />Ndlangentak sontoloyo ta! Lha piye, pancen wong Jawa kuwi ngono, sugih krenah. Ning kebacute krenah, sok tekan julig. Pol-pole ana sing tegel nekak gulune kanca bebasane. Katone nyedhak-nyedhak, ning jane adoh, Katone mesem-mesem, ning mung lamis, ulas-ulas bawang, mangka bawang kopong. Iku ruh sing kadhang mili ing getih kenthele wong Jawa. Abang-abang lambe, alias basa-basi asring ngembangi donya Jawa. <br />Diakoni apa ora, wiwit jaman biyen wong Jawa pancen ngono. Jaman Ajisaka ngrang­ket Dewata Cengkar, rak ya wis nganggo urik ta. Ndadak nggelar iket (udheng), jebul njur tegel njegurke segara. Jaman Sunan Kudu, Arya Penangsang, lan Sultan Hadi­wijaya rak ya wis mambu urik-urikan ta? Ndadak sing duwe tembung rajah Kalacakra, apa tembung liyane, intine yen kurang begja sok mblondrokake. Malah ing alam, Ora beda nalika Rara Jonggrang nolak tresnane Bandungbandawasa, ndadak kon mbangunake candhi, apa ngono iku ora kle­bu urik. Urik ta? Nyatane njur nggugahi wong-wong tani, simbok-simbok kon dha tangi, nutu beras, ben dikira wis bangun rahina.<br />Sajake, urik iku pancen wis mbalung sungsum tumrape wong Jawa. Malah ana sing sedina-dina rumangsa kurang, kleru, lan utang yen ora nguriki wong liya. Suwalike, wong liya uga kudu siap nampani urike pihak liya. Sing marahi senut-senut, antarane sing urik lan sing dijak urik, kadhang wis ana gedheg anthuk lan pidak jempol. Takera-takeran untung ngene iki sing sok keplayu tekan jagad letheg, reged, lan jember.<br />***<br />DONGENG Kancil, rak ya ngono ta, ana urik-urikan, sing penting dhirine sukses. Donyane wayang kulit uga ngono. Kresna sing kondhang wicaksana, jane uga sugih jiwa urik. Jaman ranjapan Abimanyu, priye trekahe Kresna ngaling-alingi srengenge. Jaman Banjran Dursasana, Kresna uga duwe jiwa urik. Samono uga jaman Duryunana gugur, kabeh kebak pitenah, kepengin nguwasani wong liya. Donya fiktif Jawa iku satemene nggambarake alam pikire wong Jawa, sing sawektu-wektu bakal dumadi. <br />Mula ora perlu kaget, yen ing jagad Jawa iki, akeh sing wis wareg urik-urikan. Bal-balan, badminton, sekak, lan olah raga liyane asring kebak urik. Dolanan gobagsodor, jamuran, mul-mulan, macanan, cu­blak-cublak suweng, lan liya-liyane asring tinemu jiwa urik. Njur digebyah uyah, kabeh cak-cakaning urip ana urik-urikan, dolanan, main-main, lan apus-apusan. <br />Sing marahi menjelut weteng, yen dolan­an urik-urikan mau uga nggepok peprentahan lan negara, mbilaeni ta. Mosok, antarane partai siji lan sijine katone akur kaya mimi lan mintuna, jebul atine dha kebak singgat ketaton. Utawa, suwalike, ketoke dha ana satru bebuyutan, udreg-udregan, jebul bareng wis ngopi bareng, ilang kabeh. Kabeh lumaku setel kendho kenceng.<br />Pancen seprene durung ana sanksi kang cetha, tumrap sing gelem dolanan ilat. Obahe ilat kuwi pancen sing kanggo gaman urik. Yen ilate wis ngilat ula, woww, akeh cawang-cawange, tur ngemu upas mandi. Ora wurung bakal ana korban. Wong-wong cilik biasane sing nampa akibat. Yen wong gedhe-gedhe dha adu manising tembung, katone mung sanksi alam sing bakal ngerti. Alam sing bakal menehi ukum. Yen wong biasa, kiraku bakal mopo, pasrah, lan mangga kersa Kang Gawe Urip.<br />Najan ngonoa, yen kurang waspada, adate sok ana sanksi sosial sing ora ana wates wektune. Sanksi sosial iki bakal nggeret kabeh laku urik tekan alam sing ora mekolehi ati. Deloken wae, nalika akeh wong wis dhemen urik donya Jawa iki cepak jebole. Luwih-luwih yen ana guru wis nguriki murid, wartawan nguriki pembaca, kyai nguriki santrine, pemrentah nguriki rakyat, lan suwalike. Yen wis adu urik-urikan, genah saya akeh dredah. <br />Lan sing luwih mbebayani meneh, yen ana wong tegel nguriki kluwargane, anake, lan bojone, genah cepak ambrole bale wisma sing diwangun pirang-pirang taun. Gawat meneh, yen ana wong wis tegel nguriki pribadine. Mosok tegel karo awake dhewe, Mangga, ning ing jagad Jawa bakal ana wong-wong sing dolanan urik kuwi. Genahe, wong sing seneng urik kuwi merga duwe gegayuhan kumel. Pepenginan sing mburu wudele dhewe.<br />Urike bapak marang anak, dhawuh: ‘’Tukokna rokok’’, kamangka arep duwe karep liya. Urik kuwi akal-akalan, jiwa kancil, sing golek slamete dhewe. Urik sing apik, jare angger dora sembada, oleh. Angger ana digdaya lan nyatane. Nguriki maling, oleh. Sing payah, yen maling nguriki maling, aneh ta kuwi. Ning sapa sing urik, biasane tetep njelehi. Urik tetep sok ngrugeni wong liya.  Haratayah, piye yen kepleset, jekangkangan, terus klenger ta! (35)<br /></p>				(—Suwardi Endraswara, pengajar Filsafat Jawa FBS UNY /)
                                <p>
				</p>
				<p align="right">
				<!-- AddThis Button BEGIN -->
				<a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20" onmouseover="return addthis_open(this, '', '[URL]', '[TITLE]')" onmouseout="addthis_close()" onclick="return addthis_sendto()"><img src="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" width="125" height="16" alt="Bookmark and Share" /></a><!-- AddThis Button END --></p>
									<h5><a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/458">Baca Komentar</a> &#124;
					<a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/458">Kirim Komentar</a></h5>
						</div></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div class="first article1" readability="165">
<h4>Pamomong</h4>
<p>                                <h7>Dening Suwardi Endraswara</h7><br />
<h2>Apa Bener Wong Jawa Urik?</h2>
<p>						<a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2009/10/11/458#" class="image"><img src="http://suaramerdeka.com/foto_kejawen/53902f5cb7c40c21eaee7a499a75d947.jpg" alt="image" width="300" height="224.855491329" hspace="5" align="left" /></a></p>
<p>WONG Jawa pancen dhemen njarik lurik, alias urik. Ora gedhe, ora cilik, kabeh dhemen urik-urikan. Yen bocah cilik, latihan urik, dolanan adu wayang, ana sing ditekuk. Ana sing dolanan karet (uthut), ning ora beres. Ana sing seneng dolanan oyak-oyakan, dhelik-dhelikan, umpet-umpetan, esem-eseman, ning sejatine pengin njegal kanca. Iku ati Jawa. Semonoa yen gelem ngakoni.</p>
<p>Urik tegese pinter apus krama. Senengane ngepring apus. Mbulet-mbulet. Ting prungkel pikirane kaya dhadhung, muntir-muntir. Seneng nyandiwara. Kadhangkala, abang dikandhakake ijo, ijo dikandhakake abang. Beteke kepengin golek untung. Untunge dhewe sing diubres, sokur kelompoke (trahe), njur wani dolanan tembung. Tembung sing katone digawe manis manuhara, jebul sok ngemu melik. Tobat-tobat, anak kadhal jare tobil. Tobil-tobil, anak kethek jare munyuk.<br />Wong dhemen urik, uripe katon nganggo larikan, ning morak-marik. Ora karuwan. Merga, atine pijer kepengin ngakali wong. Pengin ngukil-ukil perkara, ben bathine mili menyang awake dhewe. Hemmm!<br />***<br />DAYA nalar Jawa pancen akeh sing nyurung tekan jagad urik. Seneng adu-adu. Mula ana tembung adu manising rembug kaya kapuk, empuk, ning kopong mlompong. Pong-pong bolong ndhog merang ndhog sapi, pecah-pecah endhogmu siji. Ateges sing dioyak siji thil, bathine dhewe, Najan wong liya gundhul, dha PCDS pecas endhahe (nuwun sewu), awake dhewe gela-gelo, seneng atine.<br />Wis-wis, wong Jawa yen wis namakake jiwa urik tansaya nggladrah. Kadhangkala tekan mbahne urik, yaiku dhemen ngglibeng. Ora perlu kaget, kadhangkala katone njaba manthuk-manthuk, mesem-mesem, ning njerone ngandhut melik. Isih mendhing yen mung melik, pamrih, sing mbebayani ana niat nendhang, nempang, njegal, lan ngebrukake. Yen wis wong liya jekangkangan, keplengkang-plengkang, sajake lega ndonya. Yen wis ngen iki lhadalah!<br />Wong seneng urik iku dhasar, gawan bayi. Ning uga ana sing kedayan seka wong kiwa tengene. Wong sing cedhak karo Sengkuni, iki sok klemak-klemek, ning mengkal-mengkal sikile. Sengkuni-isme, jebul asring mili ing getihe wong Jawa. Luwih-luwih yen wis kulina ngenam-enam tembung, tembung sing bisa ngruntuhake ati, jan tansaya mbebayani. Saya marahi gendra. <br />Tumrap sing hobi Sengkuni-isme, lagak langguke wis cetha. Biasane sok plak-plek, tembunge katon putih, memes, alus, jebul nggegirisi. Sing luwih medeni meneh, wong urik iku asring ngutip-ngutip ayat suci, ngutip tembang-tembang kuna, kanggo ngyakinake sing dijak omong. Yen wis ngono iku, adate sok njalari wong kapiluyu, kesedhot, njur katut, keli, kolu tekan jagad sing peteng. Luwih-luwih yen Sengkuni-isme mau ketemu Dornaistis, jan saya keplantrang adoh.<br />Ndlangentak sontoloyo ta! Lha piye, pancen wong Jawa kuwi ngono, sugih krenah. Ning kebacute krenah, sok tekan julig. Pol-pole ana sing tegel nekak gulune kanca bebasane. Katone nyedhak-nyedhak, ning jane adoh, Katone mesem-mesem, ning mung lamis, ulas-ulas bawang, mangka bawang kopong. Iku ruh sing kadhang mili ing getih kenthele wong Jawa. Abang-abang lambe, alias basa-basi asring ngembangi donya Jawa. <br />Diakoni apa ora, wiwit jaman biyen wong Jawa pancen ngono. Jaman Ajisaka ngrangket Dewata Cengkar, rak ya wis nganggo urik ta. Ndadak nggelar iket (udheng), jebul njur tegel njegurke segara. Jaman Sunan Kudu, Arya Penangsang, lan Sultan Hadiwijaya rak ya wis mambu urik-urikan ta? Ndadak sing duwe tembung rajah Kalacakra, apa tembung liyane, intine yen kurang begja sok mblondrokake. Malah ing alam, Ora beda nalika Rara Jonggrang nolak tresnane Bandungbandawasa, ndadak kon mbangunake candhi, apa ngono iku ora klebu urik. Urik ta? Nyatane njur nggugahi wong-wong tani, simbok-simbok kon dha tangi, nutu beras, ben dikira wis bangun rahina.<br />Sajake, urik iku pancen wis mbalung sungsum tumrape wong Jawa. Malah ana sing sedina-dina rumangsa kurang, kleru, lan utang yen ora nguriki wong liya. Suwalike, wong liya uga kudu siap nampani urike pihak liya. Sing marahi senut-senut, antarane sing urik lan sing dijak urik, kadhang wis ana gedheg anthuk lan pidak jempol. Takera-takeran untung ngene iki sing sok keplayu tekan jagad letheg, reged, lan jember.<br />***<br />DONGENG Kancil, rak ya ngono ta, ana urik-urikan, sing penting dhirine sukses. Donyane wayang kulit uga ngono. Kresna sing kondhang wicaksana, jane uga sugih jiwa urik. Jaman ranjapan Abimanyu, priye trekahe Kresna ngaling-alingi srengenge. Jaman Banjran Dursasana, Kresna uga duwe jiwa urik. Samono uga jaman Duryunana gugur, kabeh kebak pitenah, kepengin nguwasani wong liya. Donya fiktif Jawa iku satemene nggambarake alam pikire wong Jawa, sing sawektu-wektu bakal dumadi. <br />Mula ora perlu kaget, yen ing jagad Jawa iki, akeh sing wis wareg urik-urikan. Bal-balan, badminton, sekak, lan olah raga liyane asring kebak urik. Dolanan gobagsodor, jamuran, mul-mulan, macanan, cublak-cublak suweng, lan liya-liyane asring tinemu jiwa urik. Njur digebyah uyah, kabeh cak-cakaning urip ana urik-urikan, dolanan, main-main, lan apus-apusan. <br />Sing marahi menjelut weteng, yen dolanan urik-urikan mau uga nggepok peprentahan lan negara, mbilaeni ta. Mosok, antarane partai siji lan sijine katone akur kaya mimi lan mintuna, jebul atine dha kebak singgat ketaton. Utawa, suwalike, ketoke dha ana satru bebuyutan, udreg-udregan, jebul bareng wis ngopi bareng, ilang kabeh. Kabeh lumaku setel kendho kenceng.<br />Pancen seprene durung ana sanksi kang cetha, tumrap sing gelem dolanan ilat. Obahe ilat kuwi pancen sing kanggo gaman urik. Yen ilate wis ngilat ula, woww, akeh cawang-cawange, tur ngemu upas mandi. Ora wurung bakal ana korban. Wong-wong cilik biasane sing nampa akibat. Yen wong gedhe-gedhe dha adu manising tembung, katone mung sanksi alam sing bakal ngerti. Alam sing bakal menehi ukum. Yen wong biasa, kiraku bakal mopo, pasrah, lan mangga kersa Kang Gawe Urip.<br />Najan ngonoa, yen kurang waspada, adate sok ana sanksi sosial sing ora ana wates wektune. Sanksi sosial iki bakal nggeret kabeh laku urik tekan alam sing ora mekolehi ati. Deloken wae, nalika akeh wong wis dhemen urik donya Jawa iki cepak jebole. Luwih-luwih yen ana guru wis nguriki murid, wartawan nguriki pembaca, kyai nguriki santrine, pemrentah nguriki rakyat, lan suwalike. Yen wis adu urik-urikan, genah saya akeh dredah. <br />Lan sing luwih mbebayani meneh, yen ana wong tegel nguriki kluwargane, anake, lan bojone, genah cepak ambrole bale wisma sing diwangun pirang-pirang taun. Gawat meneh, yen ana wong wis tegel nguriki pribadine. Mosok tegel karo awake dhewe, Mangga, ning ing jagad Jawa bakal ana wong-wong sing dolanan urik kuwi. Genahe, wong sing seneng urik kuwi merga duwe gegayuhan kumel. Pepenginan sing mburu wudele dhewe.<br />Urike bapak marang anak, dhawuh: Tukokna rokok, kamangka arep duwe karep liya. Urik kuwi akal-akalan, jiwa kancil, sing golek slamete dhewe. Urik sing apik, jare angger dora sembada, oleh. Angger ana digdaya lan nyatane. Nguriki maling, oleh. Sing payah, yen maling nguriki maling, aneh ta kuwi. Ning sapa sing urik, biasane tetep njelehi. Urik tetep sok ngrugeni wong liya. Haratayah, piye yen kepleset, jekangkangan, terus klenger ta! (35)</p>
<p>				(Suwardi Endraswara, pengajar Filsafat Jawa FBS UNY /)</p>
<p align="right">
				<!-- AddThis Button BEGIN --><br />
				<a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20" onmouseover="return addthis_open(this, '', '[URL]', '[TITLE]')" onmouseout="addthis_close()" onclick="return addthis_sendto()"><img src="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" width="125" height="16" alt="Bookmark and Share" /></a><!-- AddThis Button END --></p>
<h5><a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/458">Baca Komentar</a> |<br />
					<a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/458">Kirim Komentar</a></h5>
</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kebumen.info/index/apa-bener-wong-jawa-urik-2.xhtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kori</title>
		<link>http://www.kebumen.info/index/kori.xhtml</link>
		<comments>http://www.kebumen.info/index/kori.xhtml#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 03:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jawa tengah]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[seputar jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2009/10/11/459</guid>
		<description><![CDATA[<div><div class="first article1" readability="37">
				<h4>Blencong</h4>

                                <h7>Oleh MT Arifin</h7><h2>Kori</h2>
								<p>Pintu rumah seseorang se­ring dianggap indikasi dari sikap keterbukaan, guyub rukun dan hidup lumrah. Pintu rumah yang selalu tertutup pada sore hari, atau pada saat hari baik seperti le­baran, itu sebagai suatu hal yang tidak umum, sehingga peng­huninya akan dirasani dan dicerca, dianggap kurang membaur, ora lumrah atau emoh ketamon.    <br />Hubungan antarruang dilakukan melalui pintu. Orang Jawa menyebutnya lawang atau konten, yaitu butulaning omah utawa senthong sing dienggo mlebu-metu. Fungsi pintu adalah jalan lalu lintas antaruang dan dari ruang dalam ke ruang luar atau sebaliknya. <br />Untuk keamanan, pintu dilengkapi dengan daun-pintu sebagai penutup ruang, biasanya dipasang pada pintu untuk keluar-masuk dari dan ke dalam ruang. Untuk hubungan antaruang tak selalu membutuhkan daun pintu, dan jika demikian  biasanya diganti tabir kain, yang disebut korden. <br />Terhadap variasi bentuk pintu, dikenal lawang tangkeban (berdaum pintu satu), lawang kupu tarung (berdaun pintu dua), lawang leregan, la­wang monyetan (berdaun pintu paron, bawah-atas).  <br />Masih dikenal pula pintu penghubung kompleks rumah dengan luar pekarangan, yakni lawang butulan (pintu yang ada di kiri-kanan atau belakang cepuri atau pagar tembok mengelilingi pekarangan). Juga ada lawang kori, yaitu pintu untuk masuk ke pekarangan rumah yang ada di regol atau plawangan. Pembuatan dan penempatan letak pintu regol biasanya berdasar petung­an yang berhubungan dengan keselamatan dan keberutungan penghuninya, di samping kesusilaan. Secara teknis, letaknya akan digeser ke arah kiri atau kanan, sehingga tidak simetris lurus ke depan menuju pendhapa (disebut garis sipat atau sumbu). Secara etis, itu dimaksud untuk menghindari terpantaunya kesibukan rumah dari arah luar, di samping kenyamanan pemanfaatan teras dan halaman bagi si empunya. <br />Hal ini sering masih ditambah penggunaan rana atau slintru untuk tabir antara pendhapa dan ndalem (untuk menghindari pandangan  tamu), di samping meredam kerasnya aliran tiupan angin; pintu regol pengganti rana disebut renteng. Namun, penggeseran letak regol kadang juga pengaruh kepercayaan, guna menghindarkan kemungkinan adanya roh jahat yang datang secara langsung menuju ke rumah. <br />Masyarakat juga sering membangun pintu regol di kompleks permukiman besar atau desa, dan ju­ga bangunan-bangunan besar. Sering pintu gapura dilengkapi pager bumi mengelilingi kompleks untuk tanda batas dan keamanan, pada bagian depan ada gapura pintu masuk (lawang seke­theng). Untuk bangunan besar seperti keraton, masjid, kompleks makam, banyak menggunakan gapura paduraksa atau candi bentar, yakni bentuk bangunan candi terbelah tengah; sering dilengkapi hiasan patung Dwa­rapala. Adapun bentuk regol untuk rumah orang kaya atau perkantoran dan masjid, banyak mengunakan model se­mar tinan­dhu, suatu bangunan atap sirap bentuk limas disangga dua tiang atau variasi dari padanya. <br />Model ini juga untuk menghias gunungan atau kayon dalam wayang yang disebut kayon gapuran. Gunungan yang sebelah bawah pohon besar ada rumah sebagai gapura, di kanan kirinya ada raksasa membawa gada atau pedang dan tameng. (35)</p>				(/)
                                <p>
				</p>
				<p align="right">
				<!-- AddThis Button BEGIN -->
				<a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20" onmouseover="return addthis_open(this, '', '[URL]', '[TITLE]')" onmouseout="addthis_close()" onclick="return addthis_sendto()"><img src="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" width="125" height="16" alt="Bookmark and Share" /></a><!-- AddThis Button END --></p>
									<h5><a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/459">Baca Komentar</a> &#124;
					<a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/459">Kirim Komentar</a></h5>
						</div></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div class="first article1" readability="37">
<h4>Blencong</h4>
<p>                                <h7>Oleh MT Arifin</h7><br />
<h2>Kori</h2>
<p>Pintu rumah seseorang sering dianggap indikasi dari sikap keterbukaan, guyub rukun dan hidup lumrah. Pintu rumah yang selalu tertutup pada sore hari, atau pada saat hari baik seperti lebaran, itu sebagai suatu hal yang tidak umum, sehingga penghuninya akan dirasani dan dicerca, dianggap kurang membaur, ora lumrah atau emoh ketamon. <br />Hubungan antarruang dilakukan melalui pintu. Orang Jawa menyebutnya lawang atau konten, yaitu butulaning omah utawa senthong sing dienggo mlebu-metu. Fungsi pintu adalah jalan lalu lintas antaruang dan dari ruang dalam ke ruang luar atau sebaliknya. <br />Untuk keamanan, pintu dilengkapi dengan daun-pintu sebagai penutup ruang, biasanya dipasang pada pintu untuk keluar-masuk dari dan ke dalam ruang. Untuk hubungan antaruang tak selalu membutuhkan daun pintu, dan jika demikian biasanya diganti tabir kain, yang disebut korden. <br />Terhadap variasi bentuk pintu, dikenal lawang tangkeban (berdaum pintu satu), lawang kupu tarung (berdaun pintu dua), lawang leregan, lawang monyetan (berdaun pintu paron, bawah-atas). <br />Masih dikenal pula pintu penghubung kompleks rumah dengan luar pekarangan, yakni lawang butulan (pintu yang ada di kiri-kanan atau belakang cepuri atau pagar tembok mengelilingi pekarangan). Juga ada lawang kori, yaitu pintu untuk masuk ke pekarangan rumah yang ada di regol atau plawangan. Pembuatan dan penempatan letak pintu regol biasanya berdasar petungan yang berhubungan dengan keselamatan dan keberutungan penghuninya, di samping kesusilaan. Secara teknis, letaknya akan digeser ke arah kiri atau kanan, sehingga tidak simetris lurus ke depan menuju pendhapa (disebut garis sipat atau sumbu). Secara etis, itu dimaksud untuk menghindari terpantaunya kesibukan rumah dari arah luar, di samping kenyamanan pemanfaatan teras dan halaman bagi si empunya. <br />Hal ini sering masih ditambah penggunaan rana atau slintru untuk tabir antara pendhapa dan ndalem (untuk menghindari pandangan tamu), di samping meredam kerasnya aliran tiupan angin; pintu regol pengganti rana disebut renteng. Namun, penggeseran letak regol kadang juga pengaruh kepercayaan, guna menghindarkan kemungkinan adanya roh jahat yang datang secara langsung menuju ke rumah. <br />Masyarakat juga sering membangun pintu regol di kompleks permukiman besar atau desa, dan juga bangunan-bangunan besar. Sering pintu gapura dilengkapi pager bumi mengelilingi kompleks untuk tanda batas dan keamanan, pada bagian depan ada gapura pintu masuk (lawang seketheng). Untuk bangunan besar seperti keraton, masjid, kompleks makam, banyak menggunakan gapura paduraksa atau candi bentar, yakni bentuk bangunan candi terbelah tengah; sering dilengkapi hiasan patung Dwarapala. Adapun bentuk regol untuk rumah orang kaya atau perkantoran dan masjid, banyak mengunakan model semar tinandhu, suatu bangunan atap sirap bentuk limas disangga dua tiang atau variasi dari padanya. <br />Model ini juga untuk menghias gunungan atau kayon dalam wayang yang disebut kayon gapuran. Gunungan yang sebelah bawah pohon besar ada rumah sebagai gapura, di kanan kirinya ada raksasa membawa gada atau pedang dan tameng. (35)</p>
<p>				(/)</p>
<p align="right">
				<!-- AddThis Button BEGIN --><br />
				<a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20" onmouseover="return addthis_open(this, '', '[URL]', '[TITLE]')" onmouseout="addthis_close()" onclick="return addthis_sendto()"><img src="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" width="125" height="16" alt="Bookmark and Share" /></a><!-- AddThis Button END --></p>
<h5><a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/459">Baca Komentar</a> |<br />
					<a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/459">Kirim Komentar</a></h5>
</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kebumen.info/index/kori.xhtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seribu Satu Kemungkinan Lawang</title>
		<link>http://www.kebumen.info/index/seribu-satu-kemungkinan-lawang.xhtml</link>
		<comments>http://www.kebumen.info/index/seribu-satu-kemungkinan-lawang.xhtml#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 03:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jawa tengah]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[seputar jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2009/10/11/460</guid>
		<description><![CDATA[<div><div class="first article1" readability="59">
				<h4>Pamomong</h4>

                                <h7>Oleh Sucipto Hadi Purnomo</h7><h2>Seribu Satu Kemungkinan Lawang </h2>
								<p>LAWANG, secara fungsional, merupakan pintu yang menjinjing seribu satu kemungkinan. Bagian penting dari setiap rumah dan bangunan ini tak jarang berada di titik yang menghadirkan situasi oposisional: kecurigaan sekaligus pengharapan, keteguhan tetapi pada kesempatan lain justru menjadi jalan dhemenan!</p>
<p>Tak ada rumah tanpa pintu. Minimal satu sebagai pintu masuk, sekaligus juga pintu keluar. Pintulah yang lazim menentukan, ke mana arah menghadap rumah itu. Pintu yang mengharuskan pemilik dan tetamu memasukinya dari barat, menunjukkan rumah itu menghadap ke barat. Begitu seterusnya. <br />Pintu masuk utama, pada rumah Jawa, biasanya berada tepat di tengah dinding muka bangunan yang simetris. Di depan pintu, baik dalam keadaan terbuka maupun terutama pada saat tertutup, setiap tamu wajib uluk salam sebelum melewatinya. <br />Melalui pintu tersebut, tamu akan disilakan masuk. Pintu akan bertindak sebagai titik pengundang sekaligus titik penerima yang akan mengubah orang lain menjadi tamu yang selayaknya dihormati. <br />Biasanya ambang bawah pintu dilengkapi sebatang kayu melintang berbentuk balok persegi panjang. Itulah tlundhak(-an). Fungsinya semacam penginterupsi atas tindak masuk (the action of entering). Sebab, jika sang tamu tak ingin tersandung, apalagi terjungkal, ia harus berhenti sejenak di muka pintu. Ia harus melangkah dengan saksama sembari menerima sambutan tuan rumah. Dengan tlundhakan, sang tamu juga telah mengakui otoritas pemilik rumah. <br />Namun bangunan rumah modern Jawa kini pada umumnya tak menyertakan lagi tlundhakan di pintu utamanya. Ambang bawah pintu sudah dibuat sama rata dengan lantai yang berubin, dan hilanglah fungsi sebagaimana disebut tadi. <br />Di rumah para pembesar Jawa pada masa lampau (juga sekarang), di depan pintu dalam posisi sebelah-menyebelah, biasanya terdapat dua arca gopala atau reca penthung. Disebut gopala karena arca batu ini berupa raksasa bajang bertaring. Disebut pula reca penthung karena arca ini selalu memegang gada atau penthung. Pendek kata, inilah jenis arca yang ”bertugas menjaga” pintu utama. <br />Tentu saja penjagaan yang dilakukan oleh arca gopala simbolik belaka, meski di sana-sini bisa muncul keyakinan bahwa di balik batu yang bisu itu bersemayam pula kekuatan yang lebih bersifat metafisis. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa penjagaan terhadap pintu bisa juga dilakukan dengan pemasangan rajah kalacakra ataupun Ayat Kursi di atasnya. ”Penjagaan” terhadap pintu juga tak jarang dilakukan dengan pemasangan cermin bundar berbingkai merah. <br />Dalam tradisi kecilan atau kupatan di beberapa desa di Pantai Utara Jawa, selama kira-kira sehari-semalam di setiap pintu rumah selalu dipasangi kupat dan lepet. Makanan dalam balutan janur itu baru dilepas setelah ada kajatan dan bisa dimakan setelah biasanya dihangatkan (dinget) lebih dulu. <br />Ritual seperti itu bisa ditafsirkan sebagai bentuk penghormatan terhadap pintu, sekalipun secara pragmatis dapat dipahami sebagai sebuah strategi untuk membuat simpanan makanan ketika bada. Sebab, andai kupat-lepet tak ditaruh di bibir pintu, mungkin sekali sudah lebih dahulu habis. <br />Kisah tentang Pintu <br />Dalam cerita rakyat, pintu bisa menjadi suatu yang sangat berarti. Setidak-tidaknya itu dapat ditemukan dalam cerita dari Pati, Pintu Gapura Bajang Ratu. <br />Syahdan, Raden Rangga meminang Dewi Pujiwat, putri Sunan Ngerang. Namun sang putri tak serta menerima ataupun menolak pinangan itu. Dia meminta bebana. Dia menyatakan sanggup menjadi penamping hidup Raden Rangga, jika pemuda itu mampu mempersembahkan kepadanya pintu gapura bajang ratu Majapahit ke hadapannya dalam tempo tak lebih dari semalam. Padahal, pintu itu berada di Cirebon. <br />Namun dengan kesaktiannya, Rangga berhasil menaklukkan jin penjaga itu dan menyuruh menggotong pintu tersebut sampai di wilayah Pati. Tepat di Rendole, jin merasa kecapaian sehingga tak mau lagi membawa benda itu hingga di Ngerang yang sebenarnya tidak sampai sepersepuluh perjalanan yang telah ditepuh. <br />Bagi Rangga, menggotong sendiri pintu sebesar itu, tak mungkin ia bisa melakukannya. Karena itu, ia hanya membawa cengkal-nya dan mempersembahkannya kepada Dewi Pujiwat. Sudah tentu sang dewi mengaggap cengkal saja belum cukup, karena yang ia minta lawang gapura Majapahit. Cinta Rangga pun berakhir dengan kepiluan. <br />Kisah Sugriwa-Subali yang berpuncak pada permusuhan antarsaudara itu pun tak lepas dari kesalahpahaman akibat Sugriwa menutup pintu Gua Kiskenda setelah meyakini kakaknya mati bertempur di dalam gua <br />Sikap dengan Lawang <br />Tentu saja kisah yang menarasikan betapa pintu itu menduduki posisi penting masih bisa diperpanjang lagi. Namun setidaknya dua nukilan kisah sudah cukup untuk menunjukkan bahwa betapa pintu memang keberadaannya begitu bermakna. <br />Begitu bermakna, sehingga sehingga terdapat pula beberapa idiom yang menghadirkan kata pintu yang dalam bahasa Jawa disebut lawang, kori, ataupun konten. Di samping ada unen-unen ”njajah desa milang kori”, ada pula lawang kaswargan dan lawang kanugrahan. Adapun dalam realitas faktual, terdapat berbagai jenis pintu, di samping jendela,  yakni lawang ngarep, lawang buri, lawang butulan, dan lawang senthong. <br />Ada pula Lawang Sewu di Semarang yang seolah telah menjadi semacam ”grosir lelembut”. Maklumlah, sebuah bangunan yang memiliki banyak sekali pintu ini lebih dikenal sebagai gedung bersarang aneka makhluk halus. <br />Di luar itu, di samping berfungsi utama sebagai jalan keluar-masuk penghuni rumah dan tamu, pintu juga menjadi salah satu penting penopang estetika rumah. Karena itu, pintu setiap rumah menunjukkan kepekaaan estetis pemiliknya. <br />Sikap terhadap lawang, apakah lebih sering dalam kondisi tertutup atau terbuka, juga bisa menjadi gambaran sikap penghuni rumah yang dilawangi. Tentu saja pilihan sikap macam itu masih bisa ditautkan dengan keyakinan terhadap lawang. Misalnya setelah candhik ala sebaliknya lawang dibuka agar rezeki yang hendak datang tak urung memasuki rumah. <br />Apa pun makna yang disematkan, keyakinan yang dilestarikan, dan sikap yang dikembangkan, lawang adalah semacam filter antara dunia dalam rumah yang diidealkan tenang dan dua luar yang sarat situasi chaos. Namun justru bisa terdistorsi fungsinya ketika lawang butulan atau lawang buri justru menjadi jalan untuk memasukkan orang lain buat dhemenan. (35) </p><p></p>				(—Sucipto Hadi Purnomo, dosen Budaya Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang /)
                                <p>
				</p>
				<p align="right">
				<!-- AddThis Button BEGIN -->
				<a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20" onmouseover="return addthis_open(this, '', '[URL]', '[TITLE]')" onmouseout="addthis_close()" onclick="return addthis_sendto()"><img src="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" width="125" height="16" alt="Bookmark and Share" /></a><!-- AddThis Button END --></p>
									<h5><a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/460">Baca Komentar</a> &#124;
					<a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/460">Kirim Komentar</a></h5>
						</div></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div class="first article1" readability="59">
<h4>Pamomong</h4>
<p>                                <h7>Oleh Sucipto Hadi Purnomo</h7><br />
<h2>Seribu Satu Kemungkinan Lawang </h2>
<p>LAWANG, secara fungsional, merupakan pintu yang menjinjing seribu satu kemungkinan. Bagian penting dari setiap rumah dan bangunan ini tak jarang berada di titik yang menghadirkan situasi oposisional: kecurigaan sekaligus pengharapan, keteguhan tetapi pada kesempatan lain justru menjadi jalan dhemenan!</p>
<p>Tak ada rumah tanpa pintu. Minimal satu sebagai pintu masuk, sekaligus juga pintu keluar. Pintulah yang lazim menentukan, ke mana arah menghadap rumah itu. Pintu yang mengharuskan pemilik dan tetamu memasukinya dari barat, menunjukkan rumah itu menghadap ke barat. Begitu seterusnya. <br />Pintu masuk utama, pada rumah Jawa, biasanya berada tepat di tengah dinding muka bangunan yang simetris. Di depan pintu, baik dalam keadaan terbuka maupun terutama pada saat tertutup, setiap tamu wajib uluk salam sebelum melewatinya. <br />Melalui pintu tersebut, tamu akan disilakan masuk. Pintu akan bertindak sebagai titik pengundang sekaligus titik penerima yang akan mengubah orang lain menjadi tamu yang selayaknya dihormati. <br />Biasanya ambang bawah pintu dilengkapi sebatang kayu melintang berbentuk balok persegi panjang. Itulah tlundhak(-an). Fungsinya semacam penginterupsi atas tindak masuk (the action of entering). Sebab, jika sang tamu tak ingin tersandung, apalagi terjungkal, ia harus berhenti sejenak di muka pintu. Ia harus melangkah dengan saksama sembari menerima sambutan tuan rumah. Dengan tlundhakan, sang tamu juga telah mengakui otoritas pemilik rumah. <br />Namun bangunan rumah modern Jawa kini pada umumnya tak menyertakan lagi tlundhakan di pintu utamanya. Ambang bawah pintu sudah dibuat sama rata dengan lantai yang berubin, dan hilanglah fungsi sebagaimana disebut tadi. <br />Di rumah para pembesar Jawa pada masa lampau (juga sekarang), di depan pintu dalam posisi sebelah-menyebelah, biasanya terdapat dua arca gopala atau reca penthung. Disebut gopala karena arca batu ini berupa raksasa bajang bertaring. Disebut pula reca penthung karena arca ini selalu memegang gada atau penthung. Pendek kata, inilah jenis arca yang bertugas menjaga pintu utama. <br />Tentu saja penjagaan yang dilakukan oleh arca gopala simbolik belaka, meski di sana-sini bisa muncul keyakinan bahwa di balik batu yang bisu itu bersemayam pula kekuatan yang lebih bersifat metafisis. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa penjagaan terhadap pintu bisa juga dilakukan dengan pemasangan rajah kalacakra ataupun Ayat Kursi di atasnya. Penjagaan terhadap pintu juga tak jarang dilakukan dengan pemasangan cermin bundar berbingkai merah. <br />Dalam tradisi kecilan atau kupatan di beberapa desa di Pantai Utara Jawa, selama kira-kira sehari-semalam di setiap pintu rumah selalu dipasangi kupat dan lepet. Makanan dalam balutan janur itu baru dilepas setelah ada kajatan dan bisa dimakan setelah biasanya dihangatkan (dinget) lebih dulu. <br />Ritual seperti itu bisa ditafsirkan sebagai bentuk penghormatan terhadap pintu, sekalipun secara pragmatis dapat dipahami sebagai sebuah strategi untuk membuat simpanan makanan ketika bada. Sebab, andai kupat-lepet tak ditaruh di bibir pintu, mungkin sekali sudah lebih dahulu habis. <br />Kisah tentang Pintu <br />Dalam cerita rakyat, pintu bisa menjadi suatu yang sangat berarti. Setidak-tidaknya itu dapat ditemukan dalam cerita dari Pati, Pintu Gapura Bajang Ratu. <br />Syahdan, Raden Rangga meminang Dewi Pujiwat, putri Sunan Ngerang. Namun sang putri tak serta menerima ataupun menolak pinangan itu. Dia meminta bebana. Dia menyatakan sanggup menjadi penamping hidup Raden Rangga, jika pemuda itu mampu mempersembahkan kepadanya pintu gapura bajang ratu Majapahit ke hadapannya dalam tempo tak lebih dari semalam. Padahal, pintu itu berada di Cirebon. <br />Namun dengan kesaktiannya, Rangga berhasil menaklukkan jin penjaga itu dan menyuruh menggotong pintu tersebut sampai di wilayah Pati. Tepat di Rendole, jin merasa kecapaian sehingga tak mau lagi membawa benda itu hingga di Ngerang yang sebenarnya tidak sampai sepersepuluh perjalanan yang telah ditepuh. <br />Bagi Rangga, menggotong sendiri pintu sebesar itu, tak mungkin ia bisa melakukannya. Karena itu, ia hanya membawa cengkal-nya dan mempersembahkannya kepada Dewi Pujiwat. Sudah tentu sang dewi mengaggap cengkal saja belum cukup, karena yang ia minta lawang gapura Majapahit. Cinta Rangga pun berakhir dengan kepiluan. <br />Kisah Sugriwa-Subali yang berpuncak pada permusuhan antarsaudara itu pun tak lepas dari kesalahpahaman akibat Sugriwa menutup pintu Gua Kiskenda setelah meyakini kakaknya mati bertempur di dalam gua <br />Sikap dengan Lawang <br />Tentu saja kisah yang menarasikan betapa pintu itu menduduki posisi penting masih bisa diperpanjang lagi. Namun setidaknya dua nukilan kisah sudah cukup untuk menunjukkan bahwa betapa pintu memang keberadaannya begitu bermakna. <br />Begitu bermakna, sehingga sehingga terdapat pula beberapa idiom yang menghadirkan kata pintu yang dalam bahasa Jawa disebut lawang, kori, ataupun konten. Di samping ada unen-unen njajah desa milang kori, ada pula lawang kaswargan dan lawang kanugrahan. Adapun dalam realitas faktual, terdapat berbagai jenis pintu, di samping jendela, yakni lawang ngarep, lawang buri, lawang butulan, dan lawang senthong. <br />Ada pula Lawang Sewu di Semarang yang seolah telah menjadi semacam grosir lelembut. Maklumlah, sebuah bangunan yang memiliki banyak sekali pintu ini lebih dikenal sebagai gedung bersarang aneka makhluk halus. <br />Di luar itu, di samping berfungsi utama sebagai jalan keluar-masuk penghuni rumah dan tamu, pintu juga menjadi salah satu penting penopang estetika rumah. Karena itu, pintu setiap rumah menunjukkan kepekaaan estetis pemiliknya. <br />Sikap terhadap lawang, apakah lebih sering dalam kondisi tertutup atau terbuka, juga bisa menjadi gambaran sikap penghuni rumah yang dilawangi. Tentu saja pilihan sikap macam itu masih bisa ditautkan dengan keyakinan terhadap lawang. Misalnya setelah candhik ala sebaliknya lawang dibuka agar rezeki yang hendak datang tak urung memasuki rumah. <br />Apa pun makna yang disematkan, keyakinan yang dilestarikan, dan sikap yang dikembangkan, lawang adalah semacam filter antara dunia dalam rumah yang diidealkan tenang dan dua luar yang sarat situasi chaos. Namun justru bisa terdistorsi fungsinya ketika lawang butulan atau lawang buri justru menjadi jalan untuk memasukkan orang lain buat dhemenan. (35) </p>
</p>
<p>				(Sucipto Hadi Purnomo, dosen Budaya Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang /)</p>
<p align="right">
				<!-- AddThis Button BEGIN --><br />
				<a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20" onmouseover="return addthis_open(this, '', '[URL]', '[TITLE]')" onmouseout="addthis_close()" onclick="return addthis_sendto()"><img src="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" width="125" height="16" alt="Bookmark and Share" /></a><!-- AddThis Button END --></p>
<h5><a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/460">Baca Komentar</a> |<br />
					<a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/460">Kirim Komentar</a></h5>
</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kebumen.info/index/seribu-satu-kemungkinan-lawang.xhtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Plesetan</title>
		<link>http://www.kebumen.info/index/plesetan.xhtml</link>
		<comments>http://www.kebumen.info/index/plesetan.xhtml#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 03:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jawa tengah]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[seputar jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2009/10/11/461</guid>
		<description><![CDATA[<div><div class="first article1" readability="32">
				<h4>Blencong</h4>

                                <h7>Dening Soedjarwo</h7><h2>Plesetan</h2>
								<p>PLESETAN iku panganggone tembung-tembung kang diplesetake. Tembung-tembung kang diplesetake iku digawe geseh pakecapan sarta surasane. Upamane tembung rombongan diplesetake dadi rombengan, tembung menthung diplesetake dadi mlenthung, tembung seneng diplesetake dadi seneb. Ketua rombongan diplesetake dadi ketua rombengan, tim perumus dadi tim penjerumus, tim penguji diplesetake dadi tim pemungli lan sapanunggalane. Sing diplesetake iku ana sing awujud paribasan, upamane Nulung menthung dadi Ditulung malah mlenthung; Witing tresna jalaran saka kulina diplesetake dadi Witing tresna jalaran saka kuliyah utawa Witing tresna jalaran liyane ora ana; Wani ngalah luhur wekasane dadi Wani ngalah dadi kalah-kalahan wekasane.<br />Tembung sing diplesetake karo plesetane loro-lorone tarkadhang disebutake, upamane: ”Lha kono seneng, aku sing seneb; kono renes, kene sing ngenes; kono sing untung, kene sing buntung; ora mbantu malah mbantai”.<br />Unen-unen kaya ”Sepi ing pamrih rame ing gawe” diwalik dadi ”Rame ing pamrih sepi ing gawe”; ”Ora waton omong, nanging omong sing waton”. Pitutur luhur uga sok diplesetake, upamane ”Sugih tanpa bandha, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngalahake”, diterusake jajan tanpa mbayar. Plesetan liyane upamane: Ora handarbeni kok melu hangrungkebi; Tut wuri Handayani (Apa Handayani kuwi ayu ta?).<br />Sing diplesetake iku ora mung tembung basa Jawa utawa Indonesia, nanging uga tembung saka basa Inggris, contone: Suk yen pemilihan kepala daerah kowe milih calon sing incumbent apa calon anyar? Wangsulane, ”Ora, aku seneng sing in kemben (ing sajroning kemben) wae.”<br />Tujuwane plesetan iku ana kang minangka kritik sosial, ngenyek utawa ngece, lan geguyon. Geguyon mau tarkadhang sok nyrempet-nyrempet bab sing ”porno”. Upama: Ayahane wong wadon iku rak nglempengake barang sing bengkok, emane sawise lempeng kok terus dibengkak-bengkokake. Tembung nglempengake/meluruskan sing adate ora wantah iku digawe wantah.<br />Tarkadhang ana jeneng sing diplesetake, contone kaya lelucon ing ngisor iki. Amin takon marang Aman: ”Man, kowe kok ora gelem dirabekake karo Rukmini sing ayu kae?” Wangsulane Aman: ”Ah, aku emoh rukmini, sing takgoleki sing maxi.”<br />Plesetan-plesetan iku ana kang awujud parodi, yaiku lelagon utawa puisi sing ing kana-kene tembunge diganti utawa diowahi, saengga surasane wis nyimpang karo surasa asline. Tembung-tembung ing Sumpah Pemuda tau diplesetake. Lagu kebangsaan Indonesia Raya ing Malaysia kabare tembung-tembunge uga diganti, diplesetake sing surasane isi pangina marang Indonesia. Ing puisi mbeling ”Syahadat” sing sifate religius lan suci iku uga diplesetake utawa ditulis parodine. Parodi mau unine: ”Aku bersaksi: tak ada pangeran yang naik kuda kecuali Pangeran Diponegoro, dan tak ada Mohammad yang jago tinju kecuali Muhammad Ali.”<br />Plesetan iku isi kritik sosial lan geguyon. Guyon-guyon mau sok keladuk, bab-bab sing kudune diurmati digawe nyek-nyekan. Guyon-guyon mau uga keladuk olehe nyrempet-nyrempet bab-bab kang lekoh utawa ”porno”. (35)</p>				(/)
                                <p>
				</p>
				<p align="right">
				<!-- AddThis Button BEGIN -->
				<a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20" onmouseover="return addthis_open(this, '', '[URL]', '[TITLE]')" onmouseout="addthis_close()" onclick="return addthis_sendto()"><img src="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" width="125" height="16" alt="Bookmark and Share" /></a><!-- AddThis Button END --></p>
									<h5><a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/461">Baca Komentar</a> &#124;
					<a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/461">Kirim Komentar</a></h5>
						</div></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div class="first article1" readability="32">
<h4>Blencong</h4>
<p>                                <h7>Dening Soedjarwo</h7><br />
<h2>Plesetan</h2>
<p>PLESETAN iku panganggone tembung-tembung kang diplesetake. Tembung-tembung kang diplesetake iku digawe geseh pakecapan sarta surasane. Upamane tembung rombongan diplesetake dadi rombengan, tembung menthung diplesetake dadi mlenthung, tembung seneng diplesetake dadi seneb. Ketua rombongan diplesetake dadi ketua rombengan, tim perumus dadi tim penjerumus, tim penguji diplesetake dadi tim pemungli lan sapanunggalane. Sing diplesetake iku ana sing awujud paribasan, upamane Nulung menthung dadi Ditulung malah mlenthung; Witing tresna jalaran saka kulina diplesetake dadi Witing tresna jalaran saka kuliyah utawa Witing tresna jalaran liyane ora ana; Wani ngalah luhur wekasane dadi Wani ngalah dadi kalah-kalahan wekasane.<br />Tembung sing diplesetake karo plesetane loro-lorone tarkadhang disebutake, upamane: Lha kono seneng, aku sing seneb; kono renes, kene sing ngenes; kono sing untung, kene sing buntung; ora mbantu malah mbantai.<br />Unen-unen kaya Sepi ing pamrih rame ing gawe diwalik dadi Rame ing pamrih sepi ing gawe; Ora waton omong, nanging omong sing waton. Pitutur luhur uga sok diplesetake, upamane Sugih tanpa bandha, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngalahake, diterusake jajan tanpa mbayar. Plesetan liyane upamane: Ora handarbeni kok melu hangrungkebi; Tut wuri Handayani (Apa Handayani kuwi ayu ta?).<br />Sing diplesetake iku ora mung tembung basa Jawa utawa Indonesia, nanging uga tembung saka basa Inggris, contone: Suk yen pemilihan kepala daerah kowe milih calon sing incumbent apa calon anyar? Wangsulane, Ora, aku seneng sing in kemben (ing sajroning kemben) wae.<br />Tujuwane plesetan iku ana kang minangka kritik sosial, ngenyek utawa ngece, lan geguyon. Geguyon mau tarkadhang sok nyrempet-nyrempet bab sing porno. Upama: Ayahane wong wadon iku rak nglempengake barang sing bengkok, emane sawise lempeng kok terus dibengkak-bengkokake. Tembung nglempengake/meluruskan sing adate ora wantah iku digawe wantah.<br />Tarkadhang ana jeneng sing diplesetake, contone kaya lelucon ing ngisor iki. Amin takon marang Aman: Man, kowe kok ora gelem dirabekake karo Rukmini sing ayu kae? Wangsulane Aman: Ah, aku emoh rukmini, sing takgoleki sing maxi.<br />Plesetan-plesetan iku ana kang awujud parodi, yaiku lelagon utawa puisi sing ing kana-kene tembunge diganti utawa diowahi, saengga surasane wis nyimpang karo surasa asline. Tembung-tembung ing Sumpah Pemuda tau diplesetake. Lagu kebangsaan Indonesia Raya ing Malaysia kabare tembung-tembunge uga diganti, diplesetake sing surasane isi pangina marang Indonesia. Ing puisi mbeling Syahadat sing sifate religius lan suci iku uga diplesetake utawa ditulis parodine. Parodi mau unine: Aku bersaksi: tak ada pangeran yang naik kuda kecuali Pangeran Diponegoro, dan tak ada Mohammad yang jago tinju kecuali Muhammad Ali.<br />Plesetan iku isi kritik sosial lan geguyon. Guyon-guyon mau sok keladuk, bab-bab sing kudune diurmati digawe nyek-nyekan. Guyon-guyon mau uga keladuk olehe nyrempet-nyrempet bab-bab kang lekoh utawa porno. (35)</p>
<p>				(/)</p>
<p align="right">
				<!-- AddThis Button BEGIN --><br />
				<a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20" onmouseover="return addthis_open(this, '', '[URL]', '[TITLE]')" onmouseout="addthis_close()" onclick="return addthis_sendto()"><img src="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" width="125" height="16" alt="Bookmark and Share" /></a><!-- AddThis Button END --></p>
<h5><a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/461">Baca Komentar</a> |<br />
					<a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen_comments/461">Kirim Komentar</a></h5>
</p></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kebumen.info/index/plesetan.xhtml/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
